Telepon Trump dan Pembatalan Kartu Merah Balogun

New York Post, mengutip empat sumber FIFA, melaporkan bahwa Presiden FIFA Gianni Infantino melanggar kode disiplin FIFA sendiri saat menyetujui pembatalan suspensi bintang timnas Amerika Serikat Folarin Balogun dalam pembicaraan telepon dengan Presiden AS Donald Trump pada 1 Juli 2026. "He told President Trump that he would take care of it," kata salah satu sumber kepada The Post.

Balogun diganjar kartu merah langsung pada menit ke-64 melawan Bosnia dan Herzegovina setelah melanggar Tarik Muharemovic. Amerika Serikat tetap menang 2-0 dengan sepuluh pemain di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Tanpa intervensi luar biasa itu, Balogun tidak akan bisa tampil pada laga babak 16 besar melawan Belgia.

Komite Disiplin FIFA kemudian menangguhkan pelaksanaan larangan otomatis satu pertandingan untuk masa percobaan satu tahun, sehingga Balogun bisa turun pada 6 Juli. Laga itu berakhir dengan kekalahan 1-4 Amerika Serikat dari Belgia.

Infantino Diduga Atur Batal Kartu Merah Balogun usai Telepon Trump
Ilustrasi: Striker timnas Amerika Serikat Folarin Balogun saat Piala Dunia 2026. (Sumber: talkSPORT)

FIFA Diam-diam Mengubah Aturan 36 Jam Sebelum Pertemuan Krisis

Dokumen bocoran yang diperoleh The Post menunjukkan organisasi itu diam-diam menulis ulang kode disiplinnya. Larut malam Selasa, hanya 36 jam sebelum pertemuan puncak krisis di Swiss, petinggi FIFA mengirim draf perubahan yang melarang panel hukum FIFA menangguhkan larangan otomatis satu laga akibat kartu merah.

Dalam memo pendamping, pejabat FIFA mengklaim penulisan ulang itu dibutuhkan untuk menjamin stabilitas dan melindungi integritas kompetisi. Para kritikus di federasi Eropa menilai pengajuan tengah malam itu sebagai pengakuan bersalah dan upaya retroaktif menutupi campur tangan Infantino.

ESPN melaporkan mosi untuk melarang penangguhan larangan semacam itu akan menjadi agenda utama ketika 37 anggota Dewan FIFA bertemu pada Kamis. Wakil Presiden FIFA Debbie Hewitt termasuk yang meminta Infantino merilis semua dokumen terkait kasus ini.

Norwegia Ajukan Pengaduan Etik: Tiga Isu, Satu Benang Merah

Pekan lalu, Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) Lise Klaveness mengajukan pengaduan resmi ke Komite Etik FIFA dan ke Komite Tata Kelola, Audit, dan Kepatuhan FIFA. Pengaduan itu menargetkan tiga kasus: pencabutan larangan Balogun, Hadiah Perdamaian FIFA yang dibuat Infantino dan diberikan kepada Trump pada Desember 2025, serta proyek FIFA Forward Enterprise.

Forward Enterprise adalah rencana rahasia menjual sekitar 20 persen saham entitas pemegang hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Laporan menyebut investor utamanya adalah perusahaan modal ventura milik Joshua Kushner, adik dari menantu Trump Jared Kushner. Rencana itu kolaps dalam hitungan hari setelah ditentang UEFA, CONCACAF, dan AFC.

Klaveness, kritikus lama Infantino yang sejak Agustus menyerukan pengunduran dirinya, menyebut ketiga kasus itu berbenang merah sama: rezim politik yang sama. Bagi NFF, ketiga kasus itu menggambarkan "an abuse of FIFA's powers and influence" (penyalahgunaan kekuasaan dan pengaruh FIFA).

FIFA Membantah, Dukungan untuk Infantino Terus Rontok

Juru bicara FIFA membantah tuduhan The Post. "Our position has not changed regardless of what unnamed sources claim," katanya, seraya menambahkan bahwa Infantino sebelumnya menyatakan tidak terlibat dalam keputusan tersebut.

Namun tekanan politik terus membesar: Belgia mencemooh keputusan itu dengan pesan "Overturn this!" dan menarik dukungannya untuk pencalonan kembali Infantino pada September, bergabung dengan Inggris, Wales, Irlandia, Kroasia, Albania, Yunani, dan Norwegia. UEFA dan CONCACAF terus menuntut pengembalian dana cadangan FIFA senilai 2,11 miliar dolar AS.

Infantino yang mengincar masa jabatan keempat menghadapi pemilihan presiden FIFA di Rabat pada Maret mendatang, di tengah apa yang disebut Klaveness sebagai salah satu krisis terbesar FIFA dalam bertahun-tahun.