Dua Kapal Kargo Tenggelam dalam 24 Jam
Dua kapal kargo tenggelam di dekat Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir setelah dihantam proyektil dalam dua insiden terpisah, menurut laporan CNN dan Wall Street Journal pada Kamis (15/10/2026). Insiden ini menandai eskalasi berbahaya di jalur pelayaran vital minyak dunia, di tengah meningkatnya serangan Iran di kawasan itu.
Kapal kontainer GFS Pride berbendera Singapura dihantam "proyektil yang tidak diketahui" pada Selasa (13/10) saat melintasi Selat Hormuz, lalu terbakar dan akhirnya tenggelam, menurut Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura. Seluruh 21 awak kapal berhasil dievakuasi tanpa cedera sebelum kapal tenggelam.
Media pemerintah Iran, Press TV, mengklaim kapal itu menabrak ranjau laut di rute yang tidak sah — klaim yang diragukan para pakar maritim yang menilai serangan drone lebih mungkin terjadi. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan merilis video kapal tersebut dan menuduhnya mengangkut 2.500 kontainer selundupan.
Kapal kedua, Cape Dao berbendera Antigua dan Barbuda, tenggelam pada Rabu (14/10) menurut data Organisasi Maritim Internasional (IMO) — setelah pertama kali dihantam proyektil pada 23 September lalu. Seorang awak asal India tewas dalam serangan itu. Kapal tersebut mengangkut sekitar 170.000 ton batu bara dari Uni Emirat Arab menuju India.
Eskalasi Tak Tertandingi Sejak Perang Dimulai
Menurut data IMO, GFS Pride dan Cape Dao adalah kapal kedua dan ketiga yang tenggelam di Timur Tengah sejak perang AS–Iran pecah pada Februari 2026. Perusahaan-perusahaan keamanan maritim mengonfirmasi kedua kehilangan kapal itu pada Rabu dan menyebutnya sebagai insiden tenggelam pertama dalam beberapa bulan.
Serangan terhadap kapal dagang di sekitar Selat Hormuz melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Perusahaan intelijen maritim Windward AI mencatat 12 serangan terhadap kapal dagang dalam sepekan terakhir — tertinggi sejak perang dimulai. Sekitar dua lusin kapal dihantam sejak awal Oktober, lebih banyak dari total serangan pada September.
Serangan ini terjadi saat militer AS sedang berupaya mengawal lebih banyak minyak Teluk melewati selat sekaligus membendung ekspor minyak Iran lewat blokade laut dan sanksi. Iran berulang kali meningkatkan serangan untuk mengganggu operasi AS, tetapi jarang berujung pada kapal tenggelam.
Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan Angkatan Laut AS memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan menutup pelabuhan-pelabuhan Iran. Komandan Angkatan Laut IRGC Ali Azmaei membantah klaim itu: "Jika Amerika ingin melihat apakah Selat Hormuz terbuka atau tertutup, mereka harus masuk ke arena. Kami akan menindak pelanggar dan tidak akan banyak bicara."
Harga Minyak Bergejolak
Gangguan pelayaran itu berdampak langsung ke pasar energi. Harga minyak Brent turun $1,64 atau 1,6 persen menjadi $104,42 per barel pada perdagangan Kamis pagi, sementara minyak WTI AS turun ke $94,11 per barel — setelah WTI sempat menyentuh level tertinggi tiga pekan menyusul serangan kelompok Houthi terhadap markas Saudi Aramco.
Iran menyatakan akan menerapkan taktik baru menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz untuk menjaga harga minyak tetap tinggi. Pemerintah AS dilaporkan mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal "armada bayangan" pengangkut minyak Rusia, Iran, dan Venezuela.
Para analis menilai lonjakan serangan terhadap pelayaran komersial — yang belum pernah setinggi ini sejak perang dimulai — menjadi risiko terbesar baru bagi pasokan energi global menjelang akhir tahun.






