F1 Kembali ke Afrika: Rwanda Kantongi Kontrak 10 Tahun Grand Prix
Redaksi Stateline MEDIA•14 Oktober 2026•1 mnt baca
Ilustrasi balapan Formula 1 (foto diambil pada GP Malaysia 2015). Sirkuit baru di Bugesera, Rwanda, masih dalam tahap konstruksi. (Sumber: Morio / Wikimedia Commons)
Formula 1 resmi kembali ke Afrika setelah 33 tahun: Rwanda meneken kontrak 10 tahun untuk menggelar "Formula 1 African Grand Prix, presented by Visit Rwanda" di sirkuit baru Bugesera dekat Kigali, dengan balapan perdana dibidik awal 2030-an.
Fakta Utama
F1 dan pemerintah Rwanda menandatangani kontrak 10 tahun untuk menggelar "Formula 1 African Grand Prix, presented by Visit Rwanda"; kesepakatan diumumkan di Kigali pada Selasa (13/10/2026) oleh CEO F1 Stefano Domenicali, Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem, dan Presiden Rwanda Paul Kagame.
Balapan akan digelar di sirkuit baru purpose-built berstandar FIA Grade 1 di Bugesera, sekitar 40 km di selatan Kigali dan bersebelahan dengan bandara internasional baru Kigali yang sedang dibangun; desain ditangani WurzDesign milik mantan pembalap F1 Alex Wurz bersama Tilke.
Balapan perdana ditargetkan awal 2030-an, namun kepastiannya tergantung penyelesaian konstruksi sirkuit, homologasi FIA Grade 1, dan slot kalender. CEO Rwanda Development Board Jean-Guy Afrika menyebut kapasitas tribun 100.000 penonton.
Ini akan menjadi balapan F1 pertama di Afrika dalam 33 tahun — terakhir adalah Grand Prix Afrika Selatan 1993 di Kyalami, Afrika Selatan.
Lewis Hamilton, juara dunia tujuh kali dan satu-satunya pembalap kulit hitam dalam sejarah F1, telah bertahun-tahun memperjuangkan kembalinya balapan ke Afrika. F1 mencatat lebih dari 100 juta penggemar di benua Afrika, dan hampir 60 persen penggemar di pasar utama Sub-Sahara berusia di bawah 35 tahun.