Serangan Houthi ke Bandara Riyadh Tewaskan 13 Orang

Kelompok Houthi dari Yaman melancarkan serangan mematikan ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10/2026). Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi mencatat sedikitnya 13 orang tewas dan 309 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Serangan itu disebut sebagai yang paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade. Rekaman televisi pemerintah Saudi memperlihatkan puluhan jemaah berbaris di salah satu gerbang bandara menuju dua kota suci ketika kilatan cahaya oranye terang membuat orang-orang berlarian panik, sementara sebagian atap tampak runtuh. Bandara ditutup setelah serangan dan operasional penerbangannya ditangguhkan.

Korban tewas berasal dari berbagai negara, termasuk warga Arab Saudi, Bangladesh, Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, Sudan, dan Pakistan, menurut laporan otoritas setempat yang dikutip media internasional.

Houthi Serang Bandara Riyadh: 13 Tewas, 309 Terluka
Ilustrasi — asap membubung di sekitar Bandara Internasional King Khalid, Riyadh (foto arsip, bukan dari serangan 10 Oktober 2026). (Sumber: Timedg)

Empat Serangan dalam Lima Hari

Serangan 10 Oktober bukanlah yang pertama. Otoritas Saudi mencatat empat serangan dalam lima hari: pada 7 Oktober satu orang tewas dan delapan luka, pada 8 Oktober tiga orang tewas termasuk seorang pilot maskapai, pada 10 Oktober 13 tewas, dan pada 11 Oktober satu orang tewas serta 11 lainnya luka ketika proyektil menghantam Terminal 4 dan memicu kebakaran.

Gangguan terhadap penerbangan sipil Arab Saudi meluas setelah Houthi mengaku menyerang sedikitnya lima bandara pada awal Oktober 2026: Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Bandara Internasional King Fahd di Dammam, Bandara Internasional Abha, Bandara Internasional King Abdullah di Jazan, serta Bandara Najran. Koalisi pimpinan Saudi menyebut pertahanan udara mereka mencegat rudal jelajah di sekitar Bandara King Khalid, sebuah drone di Provinsi Timur, dan rudal balistik yang diluncurkan ke arah Khamis Mushait.

Koalisi Saudi: Serangan Houthi Kejahatan Perang

Koalisi untuk Pemulihan Legitimasi di Yaman yang dipimpin Arab Saudi mengecam keras serangan tersebut. Juru bicara koalisi, Mayjen Turki Al Malki, mengatakan serangan pada Sabtu, 10 Oktober 2026, secara langsung menyasar terminal penumpang bandara dan menyebabkan korban jiwa serta luka-luka.

"Berdasarkan Hukum Humaniter Internasional, tindakan ini sepenuhnya merupakan kejahatan perang," tegas Al Malki. Ia menyebut aksi itu sebagai perbuatan keji yang bertentangan dengan nilai, prinsip, serta etika, dan menegaskan komando pasukan gabungan koalisi akan merespons serangan tersebut secara tegas, terukur, dan tetap berpedoman pada Hukum Humaniter Internasional.

Dua WNI Terluka, Kemlu Siapkan Rencana Kontingensi

Kementerian Luar Negeri RI menyiapkan rencana kontingensi pelindungan bagi 581.000 WNI di Arab Saudi — terdiri atas 351.070 warga menetap dan 229.930 peziarah — menyusul serangan tersebut. "Rencana kontingensi sudah disiapkan dan akan selalu disesuaikan dengan perkembangan di lapangan," kata Direktur Pelindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, pada 11 Oktober 2026.

KBRI Riyadh mengonfirmasi dua WNI mengalami luka ringan pada 11 Oktober 2026 dan sempat dirawat di dua rumah sakit di Riyadh sebelum diperbolehkan pulang pada hari yang sama. Hingga 14 Oktober, tidak ada WNI yang menjadi korban meninggal dunia. Kemenlu mengimbau seluruh WNI di Arab Saudi meningkatkan kewaspadaan, menghindari area bandara, dan mematuhi arahan otoritas setempat.