IMF: Pertumbuhan Ekonomi Asia Melambat, Risiko Miring ke Bawah

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Asia akan melandai tahun depan. Dalam laporan prospek kawasan Asia-Pasifik yang dirilis dalam rangkaian pertemuan tahunan di Bangkok pada Kamis (15/10/2026), IMF memproyeksikan ekonomi Asia tumbuh 4,8 persen pada 2026 dan melambat menjadi 4,4 persen pada 2027 — turun dari ekspansi 5,0 persen pada 2025.

Angka revisi itu sebenarnya lebih tinggi dari proyeksi April lalu, terutama berkat dorongan ledakan kecerdasan buatan (AI) bagi ekonomi maju Asia. Namun IMF menegaskan risiko terhadap prospek tersebut tetap miring ke bawah.

Tiga ancaman utama disorot: guncangan energi akibat perang di Timur Tengah yang berkepanjangan, potensi koreksi terhadap ledakan investasi AI, serta limpahan tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi global. Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS juga dinilai akan membuat pasar keuangan Asia tetap bergejolak.

Indonesia Tumbuh 5,1 Persen, Inflasi 3,3 Persen pada 2026

Di tengah prospek regional yang melambat, Indonesia justru diproyeksikan tumbuh stabil. IMF memperkirakan produk domestik bruto (PDB) riil Indonesia tumbuh 5,1 persen pada 2026 dan 2027 — sama dengan laju 2025 dan berada di atas rata-rata Asia.

Untuk kelompok ASEAN-5 yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, pertumbuhannya diperkirakan 4,4 persen pada 2026 dan 4,3 persen pada 2027, lebih rendah dari proyeksi Indonesia pada kedua tahun tersebut.

Tekanan harga di Tanah Air juga diperkirakan meningkat. Inflasi konsumen Indonesia diproyeksikan naik dari 1,9 persen pada 2025 menjadi 3,3 persen pada 2026, sebelum melandai ke 2,8 persen pada 2027. Kenaikan harga energi dan pangan disebut sebagai pendorong utama.

AI Topang Asia Maju, The Fed Berpeluang Naikkan Bunga

Ekonomi maju Asia menjadi satu-satunya kelompok yang akselerasinya meningkat. Berkat ledakan AI, pertumbuhannya diperkirakan mencapai 3,2 persen pada 2026, naik dari 2,5 persen tahun lalu. Sebaliknya, negara berkembang Asia yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan kawasan diperkirakan melambat ke 5,1 persen pada 2026 dari 5,6 persen, terdampak harga energi yang lebih tinggi.

Dari sisi global, ekspektasi pengetatan moneter AS meningkat. Data inflasi konsumen AS yang lebih panas dari perkiraan membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan 27–28 Oktober mencapai sekitar 31,6 persen, naik dari 22,1 persen sehari sebelumnya. IMF menilai kombinasi pengetatan moneter dan tekanan fiskal di negara-negara maju kemungkinan akan menjaga tekanan ke atas pada imbal hasil di seluruh Asia dan Pasifik.