Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.913
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Rabu (14/10/2026). Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot, kurs rupiah dibuka tergerus 12 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.913 per dolar AS.
Sehari sebelumnya, Selasa (13/10/2026), rupiah justru ditutup menguat 13 poin ke level Rp17.900 per dolar AS. Artinya, pelemahan pagi ini menghapus penguatan kemarin.
Di perbankan, BCA pada pukul 09.07 WIB mematok e-rate beli Rp17.903 dan jual Rp17.923. Bank Mandiri menetapkan special rate beli Rp17.920 dan jual Rp17.950 per dolar AS.
Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Dikutip dari Reuters, dolar AS bergerak lesu pada Rabu karena para pedagang menantikan sinyal baru mengenai waktu kenaikan suku bunga Federal Reserve untuk mengatasi inflasi yang masih bertahan di Amerika Serikat.
Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS serta pidato para pembuat kebijakan The Fed yang akan memperjelas prospek suku bunga. Mata uang AS melemah dari level tertinggi dalam 18 bulan yang dicapai pada sesi sebelumnya.
Indeks dolar AS turun tipis 0,02 persen ke level 102,16, menyusul penurunan 0,35 persen pada hari Selasa. Pelemahan dolar terjadi seiring meredanya harga minyak dan investor yang meninjau kembali reli yang didorong kecerdasan buatan.
Yen Stabil, Euro dan Pound Menguat
Di pasar valuta asing regional, yen Jepang relatif tidak berubah di angka 158,32 per dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,03 persen menjadi US$1,3256 per dolar AS.
Dolar Australia menguat 0,06 persen terhadap mata uang AS menjadi US$0,6984, sedangkan dolar Selandia Baru menguat 0,09 persen menjadi US$0,5614 per dolar AS. Euro naik 0,04 persen menjadi US$1,1203 per dolar AS.
Pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi sentimen global, terutama rilis data inflasi AS dan pernyataan pejabat The Fed yang dijadwalkan hari ini.
Sebelumnya rupiah sempat menguat 13 poin pada penutupan Selasa, menunjukkan pasar masih bergerak fluktuatif. Pelaku pasar disarankan mencermati rilis data ekonomi AS yang berpotensi menggerakkan dolar secara global.



