IHSG Terperosok ke 5.863, Seluruh Sektor Merah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI Business, IHSG kehilangan 79,24 poin atau turun 1,33 persen ke posisi 5.863,78.
Tekanan jual sudah terasa sejak pembukaan perdagangan. Pada sesi pertama, IHSG sempat anjlok 2,16 persen ke level 5.814,72, bahkan menyentuh titik terendah intraday 5.811,19 atau minus 2,22 persen pada pukul 14.02 WIB. Tidak ada satu pun indeks sektoral yang mampu bertahan di zona hijau.
Inflasi AS 3,7 Persen Jadi Biang Kerok
Pemicu utama koreksi datang dari Amerika Serikat (AS). Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) September 2026 naik 3,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6 persen dan naik dari 3,4 persen pada Agustus. Lonjakan harga bensin sebesar 9,1 persen secara bulanan menjadi pendorong utama kenaikan inflasi.
Data yang lebih panas dari perkiraan itu dengan cepat membalikkan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). "Rilis inflasi yang lebih panas dari proyeksi konsensus ini dengan cepat membalikkan ekspektasi kebijakan moneter The Fed," ujar Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).
Pasar kini kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Fed pada pertemuan 28 Oktober 2026, dengan probabilitas sekitar 32,7 persen berdasarkan CME FedWatch Tool. Perubahan ekspektasi itu tercermin pada pasar obligasi AS, dengan imbal hasil US Treasury tenor dua tahun menguat 0,27 persen ke level 4,806 persen.
Eskalasi Timur Tengah Dongkrak Harga Minyak
Selain inflasi AS, eskalasi konflik di Timur Tengah menambah tekanan ke pasar. Serangan balasan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang menyasar fasilitas energi serta bandara di Riyadh dan Dhahran meningkatkan ketidakpastian pasokan energi global.
Harga minyak mentah Brent naik 0,45 persen menjadi US$106,17 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,07 persen ke level US$95,17 per barel. Kenaikan harga energi dikhawatirkan menambah tekanan inflasi global apabila berlangsung berkelanjutan.
Analis: Waspadai Koreksi Lanjutan
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai koreksi IHSG sejalan dengan pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia pasca-rilis data inflasi AS. Indeks Nikkei 225 Jepang bahkan merosot 4,69 persen, sementara Hang Seng Hong Kong dan Shanghai Composite ikut melemah lebih dari 1 persen.
Menurut Herditya, sikap hawkish The Fed berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury dan memicu arus modal asing keluar dari negara-negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia. Secara teknikal, pelemahan hari ini telah menembus area support 5.850 sehingga risiko koreksi lanjutan perlu diwaspadai pelaku pasar.






