Gelar Perkara Hari Ini

JAKARTA — Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri dijadualkan mengadakan perbincangan khas berhubung laporan dakwaan pemalsuan surat keterangan (suket) penyetaraan pendidikan milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Rabu (21/10/2026) pukul 10.00 WIB.

Jadual tersebut disahkan peguam pelapor, Ahmad Khozinudin, selepas beliau mengunjungi Gedung Bareskrim Polri pada Isnin (19/10/2026). Gelar perkara merupakan peringkat penting dalam proses siasatan untuk meneliti alat bukti dan menentukan hala tuju pengendalian kes.

Objek yang Dipersoalkan: Suket Nomor 9149

Objek utama laporan ialah Surat Keterangan Penyetaraan Nomor 9149 yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Suket tersebut menjadi satu-satunya dokumen syarat pendidikan yang dikemukakan Gibran ketika mencalonkan diri sebagai wakil presiden pada Pilpres 2024.

Dalam laporannya, Khozinudin mengadukan dua pihak: Kemendikdasmen selaku penerbit atas dugaan membuat surat palsu atau surat berisi keterangan tidak benar, serta Gibran atas dugaan menggunakan dokumen tersebut untuk memenuhi syarat pencalonan. Menurut AFU.id, laporan tersebut ditindaklanjuti dalam bentuk Pengaduan Masyarakat (Dumas) untuk klarifikasi awal dan pencocokan bukti-bukti; Kapolri Suyudi Ario Seto pada Jumat (16/10/2026) menyatakan perkara telah berada dalam proses penyidikan.

Latar Belakang Laporan

Laporan dikemukakan oleh Tim Advokasi Penegak Etika, Moral, dan Integritas Bangsa yang diwakili Khozinudin kepada Bareskrim pada Rabu (7/10/2026) bagi pihak dua pelapor, Edy Syamsudin dan Riyadi. Terdahulu, pada Sabtu (3/10/2026), Gibran turut dilaporkan oleh Aliansi Rakyat Menggugat dan Pengacara Jawara Bela Umat.

Khozinudin menyebut dugaan tindak pidana makin kuat pasca-pertimbangan hukum Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor 01/PHP.PNS/XIV/2026, yang menurut penafsirannya menyatakan Gibran tidak memiliki ijazah SMA maupun SMK. Ia juga mempermasalahkan Certificate of Attendance dari UTS Insearch yang dijadikan dasar penyetaraan kerana menurutnya sertifikat tersebut bukan bukti kelulusan, serta menyebut Gibran terancam hukuman pidana penjara maksimal enam tahun.

Respons Pihak Berkaitan

Ketua Polis Negara Jeneral Suyudi Ario Seto mengesahkan kes itu masih berjalan. "Masih dalam proses siasatan," kata Suyudi ketika ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumaat (16/10/2026). Khozinudin meminta Polri meneliti pihak dan institusi yang perlu diperiksa dalam proses siasatan.

Daripada kem Gibran, Ketua Umum Militan Gibran 08 Nusantara Andi Azwan menilai isu suket itu berada dalam ruang lingkup undang-undang pentadbiran, bukan jenayah. Sementara itu, Ketua DPP PKS Muhammad Iqbal mengulas kenyataan Presiden ke-7 Joko Widodo mengenai dakwaan operasi politik di sebalik polemik ijazah dengan menyatakan semua pihak perlu bercermin dan melihat persoalan dari pelbagai sudut. Seperti dilaporkan Kompas TV, dakwaan pemalsuan itu masih perlu diteliti penyiasat dan belum boleh dianggap sebagai kesalahan jenayah yang terbukti.