Aksi simbolik selesai, massa menuju Tugu Tani

JAKARTA — Siri demonstrasi pelajar memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Naib Presiden Gibran Rakabuming Raka memasuki pusingan kedua. Selepas mengadakan aksi simbolik di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa pagi (20/10/2026), ratusan peserta yang bergabung dalam Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar) bergerak menuju Tugu Tani untuk mengadakan aksi massa bermula pukul 15.00 WIB.

Based on Suara.com's monitoring at the location, dozens of demonstrators had gathered in front of the Proclamator Monument in the morning. In his speech, Coordinator of the Social and Political Affairs Division of BEM UI Hafidz Haernanda assessed that two years of Prabowo's leadership showed a total failure in governance. "Two years later, those promises were said to be as they should be, we dare to say total failure," said Hafidz. After delivering five demands, the demonstrators prepared to merge with hundreds of other participants at Tugu Tani.

Lima tuntutan daripada tinjauan 560 penduduk

Komite Sadar membawa lima tuntutan yang disusun daripada hasil tinjauan terhadap 560 responden dari Sumatera hingga Papua. Tuntutan tersebut meliputi: penetapan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir sebagai bencana nasional disertai pemulihan kesihatan warga dan tindakan terhadap korporasi yang bertanggungjawab; pembaikan tadbir urus dasar ekonomi dan pemulihan kepercayaan pasaran; penghentian sekatan kebebasan bersuara; pemberantasan rasuah, kolusi, dan nepotisme; serta penurunan kos pendidikan, kesihatan, dan perkhidmatan awam.

Dalam tinjauan itu, 78,8 peratus responden menilai pemerintahan berserta kabinetnya gagal. "Kami mengajak seluruh masyarakat sivil untuk turun mengevaluasi, untuk menegur dua tahun Prabowo-Gibran, kerana masih ada tiga tahun lagi yang harus kita laksanakan nanti," kata Hafidz.

Tanpa alma mater, mahasiswa daerah turut turun

Peserta aksi dijangka berjumlah 500 hingga 700 orang, terdiri daripada mahasiswa dan pelbagai elemen masyarakat sivil. Kampus yang terlibat antaranya Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, Universitas Gadjah Mada, UPN Veteran Yogyakarta, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Lambung Mangkurat, dan Politeknik Negeri Jakarta. Aksi turut diadakan serentak di Yogyakarta dan Makassar.

Pelajar memilih untuk tidak memakai almamater kampus supaya gerakan lebih inklusif dan dapat membaur dengan masyarakat sivil. Pelajar dari Kalimantan, contohnya Universitas Lambung Mangkurat, dijemput khas untuk menyuarakan persoalan alam sekitar yang mereka hadapi, termasuk kesan kabut asap karhutla.

BEM UI menjadualkan aksi berlangsung sehingga pukul 18.00 WIB selaras dengan surat pemberitahuan kepada polis. Jawatankuasa menyediakan mekanisme antisipasi provokasi dan penyusupan supaya demonstrasi berjalan tertib. BEM UI juga merancang mengadakan aksi susulan pada 28 Oktober 2026 bersempena Hari Sumpah Pemuda, meskipun lokasinya belum diumumkan.

9.505 personel dan rekayasa lalu lintas

Polda Metro Jaya menggerakkan 9,505 anggota gabungan TNI-Polri bagi mengawal 26 aksi demonstrasi yang dijadualkan di Jakarta pada hari yang sama. Traffic Management Centre (TMC) Polda Metro Jaya mengingatkan potensi kesesakan dan pengalihan lalu lintas secara situasional bermula pukul 10.00 WIB sehingga aksi tamat di kawasan Monas, Jalan Sudirman-MH Thamrin, dan sekitar Gedung DPR/MPR.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyediakan laluan alternatif di enam kawasan tumpat: Monas, Tugu Tani, DPR/MPR, UKI Cawang, Bundaran Senayan, dan Rawamangun. Sementara itu, kumpulan buruh KSPSI dan KBPBI memastikan tidak menyertai turun ke jalan, dan Polda Banten menggesa pelajar supaya tidak menyertai aksi itu.