Satu Tuntutan, Banyak Kota
Gelombang demonstrasi pelajar melanda beberapa bandar di Indonesia pada Selasa (20/10/2026). Meskipun diadakan di lokasi berbeza, para penunjuk perasaan menyuarakan satu tuntutan utama: kerajaan segera menetapkan kebakaran hutan dan tanah (karhutla) sebagai bencana nasional.
Di Makassar, massa yang bergabung dalam Komite Rakyat Demokratik (Komrad) mengadakan aksi memperingati dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di kawasan Flyover, Jalan AP Pettarani. Penunjuk perasaan mendesak penetapan status bencana nasional supaya penanganan karhutla dapat melibatkan lebih banyak pihak, termasuk melalui bantuan antarabangsa.
Koordinator Komrad Muhammad Nur Hidayat menegaskan tuntutan itu disampaikan dengan jelas dari Makassar. "Segera menetapkan bahwa Indonesia darurat kemanusiaan dan juga bencana nasional. Ini harus ditetapkan bencana nasional sehingga semua mampu bersama-sama membantu," katanya. Aksi sempat menutup sebahagian badan jalan hingga menyebabkan kesesakan di sekitar flyover.

Tugu Tani hingga Banyumas
Di Jakarta, massa Komite Sadar (Seruan Kedaulatan Rakyat) mengadakan aksi di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Mereka menuntut kerajaan menetapkan karhutla sebagai bencana nasional sekali gus mendesak tindakan tegas terhadap korporasi yang disyaki bertanggungjawab atas kerosakan alam sekitar.
Rizki Maulana, wakil BEM IPB University, menilai kebakaran hutan di Kalimantan bukan sahaja merosakkan alam sekitar Indonesia, malah mengancam keseimbangan ekosistem global. "Hutan Kalimantan bukan cuma milik Indonesia, tapi paru-paru bumi," kata Rizki di lokasi aksi.
Di Banyumas, mahasiswa menuntut kerajaan tempatan secara terbuka menyokong penetapan karhutla sebagai bencana nasional sebagai tanda solidariti terhadap penduduk Kalimantan. Mereka turut menuntut penilaian semula beberapa program kerajaan yang dinilai berpotensi menimbulkan masalah baharu.
Gabenor Kalteng Turun Menemui Massa
PALANGKA RAYA — Ratusan mahasiswa dari pelbagai organisasi mengadakan aksi damai di hadapan Pejabat Gabenor Kalimantan Tengah. Mereka mendesak kerajaan mengisytiharkan karhutla sebagai bencana nasional susulan kebakaran yang berlarutan berbulan-bulan dan ancaman jerebu terhadap kesihatan awam.
Ketua BEM Universitas Palangka Raya, Naomi Artika Simamora, melontarkan kritik keras dalam orasinya dengan menyebut keadaan itu sebagai "agenda pembunuhan berencana" — satu ungkapan kritik terhadap kebimbangannya mengenai keselamatan warga sekiranya penanganan tidak dilakukan secara optimum.
Dalam aksi berkenaan, Gabenor Kalteng Agustiar Sabran menemui sendiri para mahasiswa dan duduk di hadapan peserta ketika mereka menyampaikan aspirasi. Mahasiswa turut membawa replika jenazah sebagai simbol kebimbangan terhadap ancaman keselamatan akibat karhutla.
Suara Pakar: Isytihar Bencana Nasional, Alihkan Belanjawan MBG
Pakar komunikasi politik Emrus Sihombing mendesak Presiden Prabowo Subianto menetapkan karhutla sebagai bencana nasional. Menurutnya, penetapan status itu diperlukan agar penanganan lebih serius, termasuk dari segi pendanaan dan pemenuhan keperluan masyarakat terjejas.
Emrus bahkan mencadangkan langkah lebih jauh: anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara dan dialihkan untuk menyokong penanganan kebakaran hutan serta pemulihan alam sekitar. "Kalau saya berpendapat, lebih tanda kutip radikal positif lagi, hentikan (MBG), gunakan untuk perbaikan," ujarnya.
Sementara itu pihak istana melalui Badan Komunikasi (Bakom) RI menyatakan pemerintah mengapresiasi aspirasi mahasiswa dan siap membuka ruang audiensi. Gelombang tuntutan status bencana nasional ini menjadi tekanan politik terbesar terhadap penanganan karhutla sepanjang krisis tahun ini.











Belum ada komen. Jadilah yang pertama!