Lima Tuntutan Komite Sadar
Gabungan pelajar yang tergabung dalam Komite Sadar (Selamatkan Daulat Rakyat) dijadualkan mengadakan demonstrasi di Jakarta pada Selasa (20/10/2026), tepat dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurut keterangan penganjur yang dipetik AFU.id, rangkaian kegiatan dirancang dimulai dengan aksi simbolik di kawasan Tugu Proklamasi pada waktu pagi, kemudian diteruskan dengan aksi massa di kawasan Tugu Tani pada waktu tengah hari hingga petang.
Dalam aksi tersebut, Komite Sadar membawa lima tuntutan utama. Pertama, meminta kerajaan menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir sebagai bencana nasional, memulihkan kesihatan warga terdampak, serta mengadili korporasi yang dinilai bertanggungjawab atas krisis dan mencabut izin mereka. Kedua, memperbaiki tadbir urus dasar ekonomi dan mengembalikan kepercayaan pasaran. Ketiga, menghentikan sekatan kebebasan bersuara. Keempat, membasmi amalan rasuah, kolusi, dan nepotisme (KKN). Kelima, menurunkan kos pendidikan, kesihatan, dan perkhidmatan awam serta memastikan akses yang lebih merata bagi masyarakat.
Menjelang aksi, Komite Sadar turut mempublikasikan hasil survei yang didakwa melibatkan 560 responden dari Sumatra hingga Papua. Berdasarkan survei tersebut, 78,8 peratus responden didakwa menilai pemerintahan Prabowo-Gibran beserta kabinetnya gagal menjawab pelbagai persoalan awam. AFU.id mencatat angka itu belum disertai publikasi metodologi secara terbuka. Survei yang sama menyebut isu alam sekitar menjadi perhatian terbesar responden — 83,5 peratus menyoroti deforestasi dan kebakaran hutan, 71,1 peratus menyoroti mahalnya harga barang keperluan asas, dan 70,6 peratus menyoroti rasuah dan penyalahgunaan kuasa.

Siapa Turun, Siapa Absen
Komite Sadar terdiri daripada mahasiswa beberapa institusi pengajian tinggi, antaranya Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, Universitas Gadjah Mada (UGM), UPN Veteran Yogyakarta, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya. Sebahagian kampus akan mengadakan aksi di kawasan masing-masing, manakala aksi di Jakarta dipusatkan di dua lokasi tersebut.
Di pihak lain, kubu buruh mengambil langkah berbeza. Andi Gani Nena Wea, Presiden KSPSI, menyatakan KBPBI tidak akan mengadakan aksi pada 20 Oktober. Seperti dilaporkan Kebaruan.com, Andi Gani yang bercakap di Nganjuk pada Sabtu (17/10/2026) menilai tarikh itu terlalu rawan, sehingga koalisinya mengisi hari tersebut dengan bakti sosial. Beliau juga memperjelas makna aksi buruh sebelum ini — 25 September dan 6 Oktober — yang menurutnya merupakan penyampaian aspirasi, bukan penentangan terhadap Presiden.
Jentera dan dunia pendidikan juga bersiap sedia. Dinas Pendidikan Jawa Barat menghantar surat edaran bertarikh 16 Oktober 2026 yang meminta pelajar SMA, SMK dan SLB — negeri mahupun swasta — menjauhi demonstrasi, sementara Kepala Polda Banten mengunjungi beberapa buah sekolah untuk menggesa pelajar tidak turun ke jalan.
Titik Kumpul dan Imbauan Lalu Lintas
Di Jakarta, orang ramai dijangka berhimpun di dua lokasi di Jakarta Pusat: kawasan Tugu Tani di Jalan Raya Kebon Sirih dan Tugu Proklamasi di Menteng. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyediakan kejuruteraan lalu lintas bagi mengantisipasi kesan aktiviti tersebut.
Menurut KabarKampus.com, ruas jalan yang berpotensi terjejas akibat kesesakan antaranya sekitar Istana Negara, Monumen Nasional (Monas), Jalan Sudirman-Thamrin, dan Gedung DPR/MPR RI. Pengarah Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Firman Darmansyah meminta orang ramai mengambil kira masa perjalanan dan memilih laluan lain jika tidak mempunyai urusan di sekitar titik demonstrasi. Pengaturan aliran kenderaan akan dilaksanakan secara situasional berdasarkan keadaan di lapangan, dan penduduk diingatkan supaya mengikuti arahan petugas.











Belum ada komen. Jadilah yang pertama!