Rencana Serangan Terungkap
Militer Amerika Serikat telah menyusun rencana serangan baru terhadap Iran yang mencakup kemungkinan penggunaan GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB) — yang dijuluki 'mother of all bombs' — terhadap infrastruktur energi dan situs nuklir Iran, jika Presiden Donald Trump memerintahkan dimulainya kembali operasi tempur. Laporan eksklusif CNN pada Kamis (15/10/2026) mengutip sejumlah pejabat AS yang memahami perencanaan tersebut.
Salah satu sumber menyebut Trump memerintahkan petinggi militer menyiapkan paket-paket serangan tambahan yang menargetkan 'banyak infrastruktur energi' Iran, dengan kemungkinan penggunaan MOAB sebelum pasukan AS ditarik dari kawasan itu. Sumber lain menggambarkan skenario serangan tersebut berlangsung 'prior to US retrograde in CENTCOM AOR' — putaran serangan terakhir sebelum Washington mengklaim kemenangan dan menarik pasukannya.
Rencana itu dapat dijalankan sebelum atau sesudah pemilihan sela 3 November, meski Trump sebelumnya menyatakan akan menahan aksi militer lanjutan hingga pemilih memberikan suara. Trump sendiri berulang kali bersumpah tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir dan memperingatkan bahwa aksi militer tambahan tetap menjadi opsi jika Teheran menolak mencapai kesepakatan.

Bom Terbesar Non-Nuklir AS
MOAB adalah bom non-nuklir terbesar dalam persenjataan AS, berisi 11 ton atau 18.700 pon bahan peledak. Bom ini belum pernah dipakai dalam pertempuran sejak 2017, ketika dijatuhkan ke kompleks gua dan terowongan ISIS di Afghanistan pada masa jabatan pertama Trump. Penggunaannya terhadap Iran akan menandai eskalasi besar dalam perang yang telah berlangsung tujuh setengah bulan sejak 28 Februari.
Rencana militer itu secara spesifik mempertimbangkan penggunaan MOAB terhadap fasilitas nuklir Iran, termasuk Pickaxe Mountain — situs bawah tanah berbenteng di dekat Natanz yang diyakini pejabat AS dan Israel menyimpan komponen program nuklir Iran. Namun sejumlah pejabat militer mempertanyakan apakah MOAB mampu menembus lapisan granit yang melindungi fasilitas tersebut, dan apakah serangan itu benar-benar akan mencapai tujuan strategis Trump.
Keberadaan rencana ini tidak berarti serangan sudah disetujui. Seorang pejabat Gedung Putih menolak mengomentari rencana militer yang sensitif, dengan mengatakan Trump 'keeps all options on the table to ensure that Iran can never have a nuclear weapon'. Reuters melaporkan belum dapat memverifikasi laporan CNN secara independen.
Eskalasi di Tengah Perang 7,5 Bulan
Laporan ini muncul ketika perang AS-Iran telah berjalan lebih dari enam bulan tanpa tanda-tanda terobosan diplomatik. Trump mengatakan perang akan berakhir 'segera' dan memprediksi harga minyak akan turun tajam begitu konflik selesai, serta mengklaim operasi militer AS telah sangat melemahkan angkatan bersenjata Iran.
Ketegangan juga meningkat di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital tempat sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair global melewatinya sebelum perang. Dua kapal dilaporkan tenggelam di dekat perairan itu setelah serangan proyektil, menimbulkan kekhawatiran atas keamanan pelayaran komersial dan pasokan energi dunia.
Pentagon menyatakan pihaknya merencanakan berbagai skenario operasional untuk melaksanakan arahan presiden. Bagi dunia — termasuk Indonesia yang tengah menghadapi persoalan distribusi BBM — setiap eskalasi di kawasan Teluk berpotensi mengguncang harga energi global yang sudah berada di level tinggi.







Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!