Trump Umumkan Pembatalan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada Kamis (15/10/2026) bahwa militer AS tidak akan menyiarkan langsung rencana eksekusi regu tembak terhadap Nidal Malik Hasan, pelaku penembakan massal di Fort Hood, Texas, pada 2009. Pengumuman itu disampaikan Trump melalui unggahan di media sosialnya pada Kamis pagi waktu AS.

"Menurut saya, menayangkan eksekusi agar semua bisa melihat bisa menjadi efek jera yang kuat bagi dunia untuk menyaksikan bagaimana Amerika memperlakukan teroris dan sampah seperti Hasan, tetapi banyak orang yang sangat baik dan bermaksud baik lebih memilih tidak melihat dia mati," tulis Trump. "Dia akan mati, sesuai jadwal, oleh regu tembak, tetapi acara ini tidak akan disiarkan." Trump menambahkan, keluarga korban boleh menyaksikan langsung eksekusi tersebut: "Mereka pantas menyaksikan KEADILAN!"

Keputusan itu membalikkan komitmen yang diumumkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth sepekan sebelumnya. Pada 8 Oktober, Hegseth menyatakan Pentagon berniat menayangkan eksekusi Hasan secara langsung dan menegaskan, "Kami akan memastikan orang-orang bisa menontonnya," dengan alasan publik perlu memahami bahwa ada konsekuensi serius atas tindakan semacam itu.

Trump Batalkan Rencana Siaran Langsung Eksekusi Pelaku Fort Hood
Monumen 'Fallen' mengenang 13 korban penembakan Fort Hood 2009 di Texas, Amerika Serikat (foto: Fort Hood, via KTEM News). (Sumber: Fort Hood, via KTEM News)

Rencana yang Tuai Kontroversi

Rencana siaran langsung itu langsung menuai penolakan luas dari kedua kubu politik. Ketua DPR AS Mike Johnson mengaku tidak akan menonton tayangan tersebut dan menyebut sejumlah koleganya merasa keberatan, sementara Wakil Presiden JD Vance juga menyatakan keraguannya dan menegaskan tidak akan menonton.

Penolakan paling keras datang dari keluarga korban. Keely Cahill Vanacker — putri Michael Cahill, salah satu dari 13 orang yang tewas dalam serangan itu — mengatakan kepada CNN bahwa rencana itu "absolutely the worst thing", sama sekali "tidak ada hubungannya dengan keadilan" dan hanya akan mengubah tragedi menjadi hiburan yang tersebar luas di media sosial tanpa bisa dihindari.

Menurut laporan CNN, Pentagon sendiri mulai mengevaluasi ulang rencana siaran tersebut. Salah satu sumber menyebut kekhawatiran bahwa tayangan bisa dimanfaatkan kelompok teroris sebagai bahan propaganda, serta persoalan citra mengeksekusi seorang pria yang lumpuh dan berada di kursi roda. Trump disebut membuat keputusan final setelah mengetahui kondisi Hasan yang paralisis.

Latar: Serangan Fort Hood 2009

Nidal Malik Hasan, mantan perwira dan psikiater Angkatan Darat AS, melepaskan tembakan ke arah sesama prajurit di Fort Hood pada 5 November 2009, menewaskan 13 orang dan melukai 32 lainnya. Serangan itu tercatat sebagai pembunuhan massal terbesar dalam sejarah instalasi militer Amerika Serikat.

Hasan dinyatakan bersalah dan divonis mati. Trump menyetujui pelaksanaan hukuman mati dengan metode regu tembak pada 2 Oktober 2026. Eksekusi yang dijadwalkan pada 3 Desember pukul 13.00 di Fort Hood — hari, lokasi, dan waktu yang persis sama dengan serangan 2009 — akan menjadi eksekusi pertama terhadap prajurit oleh Angkatan Darat AS sejak Perang Dunia II.