Satu pekan setelah penembakan oleh agen penegak imigrasi Amerika Serikat (Immigration and Customs Enforcement/ICE) di New York City, korban penembakan masih berjuang untuk mendapatkan perawatan medis. Oscar Belgal, 28 tahun, warga negara Republik Dominika, memiliki peluru yang masih bersarang di lehernya dan membutuhkan operasi darurat, menurut tim pengacaranya.

Insiden itu terjadi Kamis (8/10/2026) sekitar pukul 16.00 di Marble Hill, Manhattan — kawasan kecil perbatasan Bronx. Dua agen ICE berpakaian preman menghampiri Honda CR-V yang dikemudikan Belgal; satu agen memecahkan kaca sopir. Setelah mobil keluar dari bingkai kamera pengawas NYPD, seorang agen melepaskan setidaknya tujuh tembakan ke arah mobil. Peluru menembus kaca depan dan mengenai leher Belgal di bawah telinga kirinya.

Di jok belakang duduk anak Belgal yang baru berusia 5 tahun. Anak itu tidak terluka, dan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) menyatakan para agen tidak mengetahui ada anak di dalam mobil. Belgal kini ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn, dengan kondisi yang menurut pengacaranya dari Legal Aid Society dan Make the Road New York sangat memprihatinkan — kurungan isolasi dengan minim makanan dan perawatan medis.

Pada Rabu (14/10/2026), tim pengacara Belgal mengajukan petisi habeas corpus ke pengadilan federal, menuntut pembebasan atau setidaknya perawatan medis layak bagi kliennya. Seorang hakim federal kemudian memblokir sementara deportasi dan pemindahan Belgal dari fasilitas penahanan. Penyelidikan atas penembakan kini berjalan di tiga jalur: FBI, Homeland Security Investigations, dan Kejaksaan Bronx yang dipimpin Jaksa Darcel Clark.

DHS membela tindakan agennya. Menteri Keamanan Dalam Negeri Markwayne Mullin menyebut Belgal sebagai "kriminal alien ilegal" dengan kaitan geng Trinitarios dan riwayat penangkapan — perampokan, penganiayaan, narkoba, senjata, hingga pencurian berat. DHS mengklaim Belgal menjadikan kendaraannya senjata dan menabrak dua kendaraan ICE. Pengacara Belgal membantah keras versi itu, menyebut kliennya panik karena dihampiri orang bertopeng bersenjata yang tidak dikenalinya sebagai aparat.

Kasus ini memicu bentrokan politik antara Wali Kota New York Zohran Mamdani dan pemerintahan Presiden Donald Trump. Mamdani mengecam agen-agen ICE berpakaian preman berompi konstruksi dan menyatakan para agen "memandang hukum sebagai sekadar saran". Ia memerintahkan peninjauan 24 jam atas respons kepolisian NYPD, penggunaan lahan parkir pribadi sebagai titik kumpul operasi ICE, serta penanganan protes yang pecah pasca-kejadian.

Trump dan Mullin sempat melakukan pembicaraan telepon berjam-jam dengan Mamdani pada malam kejadian, menawarkan pengalihan tahanan Belgal ke kepolisian NYPD — tetapi tidak tercapai kesepakatan, dan Belgal tetap dalam tahanan federal. Kasus ini menjadi ujian terbaru hubungan tegang antara pemerintah kota New York dan pemerintah federal soal kebijakan imigrasi garis keras.