Ukraina menuduh SpaceX milik Elon Musk membatasi layanan Starlink kelas militer tanpa peringatan, sehingga mengganggu misi tempur pasukannya. Penasihat kepresidenan Ukraina Serhiy Beskrestnov mengatakan pembatasan diberlakukan pada terminal Starlink kelas militer yang bergerak di atas 160 kilometer per jam — kecepatan yang dibutuhkan drone tempur sebagai pemandu navigasi.

Pasukan pertahanan kami tidak menerima peringatan tentang pembatasan ini, dan ini menyebabkan terganggunya beberapa misi, tulis Beskrestnov di Telegram. Seorang sumber di Korps Reaksi Cepat ke-7 Ukraina di garis depan tenggara mengonfirmasi gangguan operasional Starlink tersebut. Tuduhan ini muncul di tengah memburuknya hubungan Kyiv dengan Washington, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencabut sanksi atas diesel Rusia dan mendesak Ukraina menghentikan serangan ke kilang minyak Rusia.

Polandia — yang membayar langganan Starlink Ukraina — bereaksi keras. Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski mempertanyakan Musk di media sosial X: sebagai pelanggan Eropa, kami mengawasi Anda. Musk merespons bahwa sistem militer Starshield dimiliki dan dikendalikan pemerintah AS, dan pembatasan kecepatan atau penggunaan diputuskan militer AS atau presiden. Menurut Musk, Starlink komersial hanya untuk aktivitas sipil atau defensif, bukan aksi militer ofensif. Sementara itu analis menilai Eropa tak punya pengganti siap pakai untuk Starlink maupun data satelit peringatan dini rudal milik AS — ketergantungan yang kini menjadi sorotan. Saham operator satelit Eropa Eutelsat pun melonjak 11,6 persen karena investor bertaruh Eropa mencari alternatif dari aset antariksa milik Amerika.

Ketegangan ini berakar pada perubahan sikap Washington. Trump mencabut sanksi atas diesel Rusia di tengah tekanan politik menurunkan harga bahan bakar yang melonjak sejak perang melawan Iran, dan secara terbuka mengkritik Zelenskyy. Zelenskyy sendiri menyebut serangan rudal Rusia ke pembangkit listrik Ukraina sebagai bentuk penghinaan terang-terangan terhadap Trump.

Negara-negara Eropa menyatakan dukungan penuh untuk Ukraina, namun data Reuters menunjukkan Kyiv dan sekutunya sangat bergantung pada sistem AS — baik komunikasi satelit orbit rendah dari SpaceX maupun sistem peringatan dini rudal berbasis inframerah. Bagi Ukraina, gangguan Starlink bukan sekadar masalah teknis, melainkan pukulan besar bagi upaya perangnya.