Bentrokan Hari Ketujuh di Tirana
Para demonstran di Albania kembali terlibat bentrokan dengan polisi antihuru-hara pada Senin (20/10/2026), memasuki hari ketujuh berturut-turut. Data resmi menyebutkan 295 orang terluka sebelum bentrokan hari Senin, termasuk 186 anggota kepolisian — menjadikannya kerusuhan sipil terparah di Albania dalam beberapa tahun terakhir.
Mayoritas demonstran adalah pelajar sekolah menengah dan mahasiswa yang menuntut Perdana Menteri Edi Rama — yang berkuasa sejak 2013 — mundur dari jabatannya. Aksi ini dipicu kemarahan atas korupsi, tingginya biaya hidup, kondisi universitas yang buruk, dan pengangguran kaum muda. Para aktivis menyebut lebih dari satu juta warga Albania telah beremigrasi dalam satu dekade terakhir karena minimnya peluang ekonomi.
Pada bentrokan hari Senin, massa berkumpul di depan Kementerian Pendidikan lalu bentrok di dekat Mahkamah Banding dan Kementerian Dalam Negeri. Demonstran melempar batu, kembang api, dan bom bensin hingga jendela gedung pecah, sementara kantor polisi dan gedung-gedung pemerintahan di Tirana menjadi sasaran serangan. Polisi merespons dengan tembakan gas air mata dan meriam air. Otoritas melaporkan lima orang ditangkap dan 15 lainnya masuk daftar buron. Aksi juga meluas ke kota-kota lain seperti Lezhë, Vlorë, Elbasan, dan Shkodër, dengan para siswa memboikot kegiatan belajar untuk turun ke jalan.
Rama Tolak Mundur, Tuding Kekuatan Asing
Perdana Menteri Edi Rama tetap menolak tuntutan mundur. Kepada para petinggi kepolisian, ia berkata: "Saat negara mulai bernegosiasi dengan tindakan seperti ini, negara telah jatuh." Rama menyatakan pemerintahnya terbuka berdialog tanpa prasyarat, tetapi tidak akan bernegosiasi dengan pihak yang terlibat kekerasan. Ia juga menuding para demonstran telah "diradikalisasi oleh kekuatan gelap di Eropa dan Amerika Serikat" serta menuding oposisi konservatif memicu kerusuhan.
Sejak aksi dimulai, sekitar 500 orang telah ditahan dan 330 di antaranya dibebaskan. Pengacara HAM Gentian Sejrani yang memberikan pendampingan hukum kepada lebih dari 100 orang ditangkap menyebut tindakan aparat "sering kali kacau dan bodoh". Komisi Eropa mengecam kekerasan di Tirana sembari menegaskan dukungan terhadap hak masyarakat berdemonstrasi damai. Kerusuhan ini membayangi ambisi Albania yang menargetkan keanggotaan Uni Eropa pada 2030.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!