Peluru Karet Ditembakkan di Hari Kelima
Ribuan pemuda Albania berkumpul di depan Kementerian Pendidikan di pusat Kota Tirana pada Sabtu (17/10/2026), memasuki hari kelima gerakan pimpinan mahasiswa yang menuntut Perdana Menteri Edi Rama mundur. Aksi berubah ricuh ketika sekelompok pemuda bertopeng melempari polisi antihuru-hara dengan batu, dan polisi membalas dengan granat kejut, gas air mata, serta meriam air.
Rekaman video Reuters menunjukkan polisi menembakkan senjata laras panjang ke arah kerumunan di depan kementerian. Wartawan Reuters menemukan butiran karet di tanah setelah insiden itu; tembakan tersebut mengenai dua jurnalis Reuters dan sejumlah pengunjuk rasa, meninggalkan bekas memar bulat di tubuh mereka. Insiden ini menandai eskalasi konfrontasi polisi-pengunjuk rasa yang telah melanda pusat Tirana dalam beberapa hari terakhir.
Tujuh Petugas Dibebastugaskan
Kapolri Albania Skender Hita tidak membantah penggunaan peluru karet saat ditanya dalam konferensi pers Sabtu itu. "Semua sarana yang digunakan dipakai secara terbatas, termasuk yang paling baru," katanya. Hita mengumumkan tujuh petugas polisi dibebastugaskan dan menghadapi investigasi disipliner karena "melampaui kewenangan" dan "gagal menghormati prinsip proporsionalitas" dalam menangani demonstran.
Data kepolisian mencatat 500 demonstran ditahan sejauh ini, 330 di antaranya sudah dibebaskan. Tercatat 120 polisi dan 45 demonstran luka-luka, meski angka korban dari pihak demonstran kemungkinan jauh lebih tinggi karena banyak yang tak tercatat.
Tuntut Rama Mundur
Aksi yang meluas ke Lezha, Elbasan, Skhodra, dan Korca itu dipicu kemarahan atas dugaan korupsi, minimnya lapangan kerja, dan rendahnya kualitas pendidikan. Pemicu awal adalah rencana pembangunan resor mewah di pesisir selatan Albania yang didukung investor termasuk Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump. Warga desa menyebut tanah mereka dijual secara tidak sah; Reuters tidak menemukan bukti kesalahan oleh Kushner.
Rama yang berkuasa sejak 2013 dan baru memenangi periode keempat tahun lalu menegaskan tidak akan mundur. "Pemerintahan diganti melalui pemilihan umum yang demokratis dan kita sudah melaksanakannya tahun lalu, bukan lewat kekerasan," ujarnya, seraya menyatakan pemerintahnya menghormati mahasiswa dan melindungi hak mereka berunjuk rasa.










Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!