Hari Keempat Demo di Tirana

Ribuan warga Albania, mayoritas anak muda, berdemonstrasi di ibu kota Tirana pada Jumat (16/10/2026). Ini adalah hari keempat kampanye protes yang dipimpin mahasiswa untuk memaksa Perdana Menteri Edi Rama mundur dari jabatannya.

Demonstrasi yang mulai menyebar ke seluruh negeri ini berubah menjadi kerusuhan di ibu kota pada Kamis. Para pengunjuk rasa memecahkan sejumlah jendela dan lampu lalu lintas, menjarah sebuah bank, dan bentrok dengan polisi. Protes juga meluas ke kota pesisir Lezha, di mana polisi bentrok dengan demonstran yang melempari batu, serta ke Elbasan, Skhodra, dan Korca.

Para mahasiswa, banyak yang mengenakan masker, berhadapan dengan barisan polisi antihuru-hara di depan gedung Kementerian Pendidikan. Sejumlah pelaku usaha kecil menutup toko mereka dan menempelkan catatan di etalase bertuliskan dukungan kepada para demonstran agar tidak merusak usaha mereka.

Rama: Tidak Akan Tunduk pada Kekerasan

Perdana Menteri Edi Rama menegaskan tidak akan mundur atas desakan para demonstran. "Pemerintah diganti melalui pemilu demokratis. Tahun lalu kita mengadakan pemilu, bukan revolusi," kata Rama dalam tanggapan tertulis kepada Reuters, Kamis (15/10).

Rama menyatakan siap membahas kenaikan biaya pendidikan yang menjadi salah satu tuntutan mahasiswa, tetapi menegaskan perusakan institusi, properti publik, dan ancaman terhadap keselamatan publik tidak ada kaitannya dengan tuntutan sah para mahasiswa. Melalui Facebook ia menulis, "We will not bow to violence" (kami tidak akan tunduk pada kekerasan).

Rama memenangkan masa jabatan keempatnya tahun lalu dengan janji membawa Albania masuk ke Uni Eropa. Ia menargetkan keanggotaan paling cepat pada 2028, dan bersama Montenegro, Albania kini memimpin proses aksesi di antara negara-negara Balkan.

Akar Protes: Korupsi dan Resor Kushner

Para mahasiswa menuduh para pejabat melakukan korupsi dan mengabaikan pendidikan. Mereka juga marah atas rencana penjualan sebagian pesisir Albania yang masih alami untuk pembangunan resor mewah yang didukung oleh Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Rencana resor tersebut telah menghadapi tantangan hukum.

Demonstrasi ini mengikuti aksi damai selama berbulan-bulan yang menurut para mahasiswa diabaikan pemerintah. "Kami sudah berdemo damai selama 140 hari, dan tidak ada yang didengar. Jadi ini satu-satunya kesempatan kami untuk didengar dan mendapatkan hak yang pantas kami terima," kata seorang demonstran berusia 19 tahun bernama Klea kepada Reuters.

Seorang demonstran berusia 19 tahun lainnya bernama Enea menyampaikan pesannya kepada Rama: "Mundur secepat mungkin sebelum semuanya terbakar."