Ratusan Ribu Turun ke Jalan, Paris Lumpuh
Gelombang demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup mengguncang Prancis dan merembet ke Belgia pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Aksi yang bermula dari kalangan pelajar itu berkembang menjadi protes lebih luas mengenai ketimpangan, pendanaan pendidikan, belanja publik, dan standar hidup, sementara bentrokan dengan aparat terjadi di sejumlah kota.
Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan sekitar 500 aksi direncanakan berlangsung di berbagai wilayah. Menurut laporan BFMTV yang mengutip sumber kepolisian, 30.000 hingga 60.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi di Paris, sedangkan jumlah peserta di seluruh negeri diproyeksikan mencapai 90.000 hingga 170.000 orang.
Menurut laporan CNN Indonesia, hingga siang hari tercatat 140 demonstrasi di luar wilayah Paris dengan lebih dari 30.000 peserta, sementara sedikitnya 166 orang ditangkap di seluruh negeri. Aparat kepolisian menembakkan gas air mata dan semprotan merica untuk memukul mundur ribuan demonstran di Paris, yang mencoba bertahan dan melempari petugas dengan botol.
Gas Air Mata di Paris, Metro Ditutup
Kemarahan aliansi pelajar, mahasiswa, pekerja, dan kelompok "Rompi Kuning" memuncak akibat krisis lonjakan biaya hidup serta memburuknya fasilitas pendidikan di bawah pemerintahan Presiden Emmanuel Macron. Di Paris, sejumlah stasiun metro ditutup atas permintaan kepolisian untuk mengantisipasi demonstrasi. Surat kabar Le Monde melaporkan bahwa Kepolisian Paris juga melarang aksi di sekitar kediaman Presiden Emmanuel Macron dan perdana menteri pada Sabtu.
Beragam kelompok diperkirakan terlibat, termasuk aktivis sayap kiri radikal, pelajar, mantan peserta gerakan Rompi Kuning, pengemudi taksi, perawat, pekerja konstruksi, dan perwakilan serikat pekerja. Perluasan peserta mencerminkan beragam tuntutan yang menyertai gelombang protes tersebut.
Menanggapi bentrokan yang meluas, Presiden Emmanuel Macron menyatakan: "No place for violence" — tidak ada tempat untuk kekerasan. Pernyataan itu disampaikan ketika demonstran dan polisi bentrok di sejumlah kota di Prancis.
Berawal dari Tuntutan Pelajar Soal Pendidikan
Gelombang aksi ini berakar dari tiga pekan demonstrasi pelajar yang menutup banyak sekolah di Prancis. Para pelajar menyoroti persoalan kekurangan tenaga pengajar, ruang kelas yang terlalu padat, serta kondisi sejumlah bangunan sekolah yang membutuhkan perbaikan. Mereka menilai pendanaan pendidikan tidak sebanding dengan kebutuhan siswa dan sekolah.
Tuntutan tersebut kemudian mendapat dukungan dari orangtua, guru, dan sejumlah kelompok masyarakat lainnya. Aksi kemudian melebar menjadi wadah untuk menyuarakan keresahan mengenai kemiskinan, ketimpangan, kenaikan harga bahan bakar, serta prioritas belanja pemerintah. Pekan sebelumnya, juru bicara pemerintah Prancis menyampaikan bahwa Macron menilai para pelajar memiliki keluhan yang "legitimate" (sah), namun menilai mereka juga sedang "dieksploitasi" oleh kekuatan politik.
Di tingkat regional, protes juga dilaporkan merembet ke Belgia, menandakan keresahan serupa melintasi perbatasan. Dengan pemilihan presiden Prancis yang dijadwalkan pada April dan Mei tahun depan, gelombang demonstrasi ini diprediksi menjadi salah satu penentu peta politik dan kebijakan publik Prancis dalam beberapa bulan mendatang.










Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!