Perintah penarikan resmi Departemen Luar Negeri AS
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Rabu (21/10/2026) memerintahkan pegawai non-esensial dan anggota keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi. Juru bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott mengonfirmasi perintah itu melalui unggahan di X.
Menurut Pigott, perintah tersebut berlaku untuk 'pegawai pemerintah AS non-darurat dan anggota keluarga mereka di Arab Saudi saja'. Ia mengaitkan langkah itu dengan serangan Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi, termasuk serangan ke bandara sipil dan infrastruktur kritis lain yang menelan korban jiwa dan mengganggu perjalanan secara parah.
'Keselamatan dan keamanan personel serta keluarga Departemen tetap menjadi prioritas tertinggi kami,' kata Pigott seperti dikutip AFP.
Serangan Houthi makin intensif, dua pekerja asing tewas
Pada hari yang sama, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan puing dari keberhasilan pencegatan sebuah drone yang menargetkan fasilitas minyak menewaskan dua orang — seorang warga Filipina dan seorang warga Nepal — serta melukai dua orang lainnya. Kementerian itu tidak menyebut siapa peluncur drone yang ditujukan ke ladang minyak Shaybah dekat perbatasan Uni Emirat Arab. Sebelumnya pada Rabu, koalisi pimpinan Saudi di Yaman melaporkan mencegat enam drone.
Menurut AFP, Arab Saudi bulan ini menghadapi serangan hampir setiap hari dari Houthi yang didukung Iran. Salah satunya serangan ke Bandara Internasional King Khalid Riyadh yang disebut serangan paling mematikan di kerajaan dalam bertahun-tahun — serangan 13-14 Oktober yang menewaskan 13 orang dan melukai ratusan lainnya.
Kedutaan AS di Riyadh juga mengeluarkan peringatan keamanan pada Rabu tentang kemungkinan serangan Houthi lanjutan di Arab Saudi. Menurut CNN, pegawai pemerintah AS yang bekerja di Arab Saudi kini membutuhkan izin khusus dari Kepala Misi untuk menggunakan bandara mana pun di kerajaan tersebut menyusul serangan rudal dan drone baru-baru ini.
Keluarga staf di negara Teluk lain ikut diperintah pergi
Seorang sumber diplomatik mengatakan kepada AFP bahwa 'semua staf Amerika dan keluarga mereka telah diperintahkan meninggalkan kedutaan AS' di Arab Saudi, dan keluarga staf kedutaan juga diperintahkan meninggalkan Uni Emirat Arab, Yordania, Qatar, serta Bahrain — negara-negara yang menurut sumber itu menjadi target Iran dalam perang Timur Tengah.
Empat pejabat AS yang berbicara kepada Reuters menyebut misi AS di negara-negara Teluk lain juga akan memerintahkan anggota keluarga pergi. Pigott sendiri tidak menyinggung perubahan di misi-misi di luar Arab Saudi.
Reuters mencatat Washington sempat menarik kembali sebagian personel diplomatik ke kawasan itu dalam beberapa bulan terakhir, setelah banyak yang ditarik saat Iran melancarkan serangan ke fasilitas-fasilitas AS menyusul perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai akhir Februari. AFP menyebut AS sebelumnya juga memerintahkan staf non-esensial meninggalkan kawasan Teluk menjelang dimulainya perang melawan Iran dan sekali lagi pada Juli lalu, sebelum Presiden Donald Trump membatalkan gelombang serangan baru.
Eskalasi yang perlu diwaspadai WNI di Teluk
Perintah penarikan ini menandai sinyal eskalasi serius dalam konflik yang berakar pada runtuhnya gencatan senjata empat tahun di Yaman pada Juni lalu. Perang yang dipicu serangan AS-Israel ke Iran itu telah menyeret perdagangan energi global dan mengguncang ekonomi negara-negara Teluk.
Bagi Indonesia, Arab Saudi adalah tujuan utama pekerja migran dan jemaah umrah — sehingga eskalasi serangan ke bandara dan fasilitas publik di kerajaan itu menambah daftar perhatian bagi warga Indonesia di kawasan Teluk.






Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!