Ribuan Aksi di Seluruh Negeri
Jutaan warga Amerika diperkirakan turun ke jalan dalam lebih dari 3.000 aksi 'No Kings: Vote Early' yang tersebar di seluruh 50 negara bagian pada Sabtu (17/10/2026), menurut para penyelenggara. Koalisi yang menggelar aksi ini terdiri dari ratusan kelompok advokasi, termasuk Indivisible, 50501, MoveOn, American Civil Liberties Union (ACLU), American Federation of Teachers, Black Voters Matter Fund, Voto Latino, dan Public Citizen.
Berbeda dengan tiga putaran protes nasional sebelumnya, aksi kali ini menempatkan penekanan jauh lebih besar pada mobilisasi pemilih: para sukarelawan membantu warga memeriksa status pendaftaran pemilih, menyusun rencana pencoblosan, dan memahami hak-hak mereka. CNN pada Sabtu melaporkan massa besar berkumpul di kota-kota di seluruh AS — termasuk pawai di Atlanta dari Civic Centre menuju Gedung Capitol Georgia, serta kerumunan besar di Los Angeles yang mengangkat isu hak imigran.
'Kami Sudah Selesai Mengirim Pesan'
Ezra Levin, salah satu pendiri Indivisible — salah satu organisasi utama dalam jaringan No Kings — mengatakan pergeseran fokus ini disengaja. 'Tiga No Kings pertama dirancang untuk mengirim pesan,' katanya kepada NPR. 'Kami sudah selesai mengirim pesan.' Kini, kata dia, tujuannya adalah membuat orang memilih.
Levin menyebut ada dua target utama: membantu mewujudkan angka pemungutan suara awal pemilu sela terbesar dalam sejarah AS, dan melatih sukarelawan sebagai pengawas TPS — langkah yang disebutnya respons terhadap ancaman integritas pemilu, seperti kekhawatiran petugas imigrasi federal dikirim ke TPS dan pembatasan surat suara pos. Tanggal 17 Oktober sengaja dipilih karena jatuh tepat di tengah awal periode pemungutan suara awal di berbagai negara bagian.
Konteks: Shutdown dan Respons Gedung Putih
Aksi berlangsung di tengah kebuntuan anggaran federal (government shutdown) dan ketegangan politik menjelang pemilu sela 3 November 2026. Gerakan No Kings menentang apa yang disebutnya otoritarianisme dan penyalahgunaan kekuasaan eksekutif oleh Presiden Donald Trump — nama 'No Kings' merujuk pada keyakinan penyelenggara bahwa Trump bertindak layaknya raja, bukan pemimpin demokrasi.
Gedung Putih menolak para penyelenggara. Juru bicara Gedung Putih Lauren Bis menyebut aksi itu sebagai pilihan ekstrem Partai Demokrat. Ketua DPR Mike Johnson menyebutnya 'Hate America Rally', sementara Trump sebelumnya menyebut aksi tersebut 'lelucon'. Tiga putaran aksi No Kings sebelumnya termasuk di antara protes terbesar dalam sejarah AS dan semuanya berjalan damai; pada putaran pertama Juni 2025, lebih dari 5 juta orang dilaporkan turun ke jalan.










Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!