Hari Kelima, Antrean Belum Terurai

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali memasuki hari kelima tanpa tanda-tanda mereda. Di Kota Denpasar, antrean sepeda motor terpantau mengular hingga 4 kilometer, sementara antrean mobil mencapai sekitar 3,5 kilometer.

Sejumlah pengendara rela mengantre sejak malam hingga pagi hari demi mendapatkan bahan bakar. Tak jarang, stok di SPBU justru habis saat giliran mereka tiba. Kondisi ini membuat aktivitas harian warga terganggu, dari mobilitas bekerja hingga operasional transportasi umum.

Kelangkaan disebut dipicu cuaca buruk dan keterlambatan waktu sandar kapal pengangkut BBM di fasilitas depo. Situasi diperparah aksi pembelian panik masyarakat yang membuat antrean kian memanjang di Denpasar, Badung, dan kawasan sekitarnya.

Manado: Eceran Tembus Rp45 Ribu

Krisis serupa melanda Kota Manado, Sulawesi Utara. Antrean kendaraan di sejumlah SPBU mengular hingga 1 kilometer dan memicu kemacetan. Pasokan Pertamax dilaporkan kosong di beberapa SPBU.

Kondisi kian pelik karena oknum pengecer memanfaatkan situasi dengan menjual BBM subsidi maupun nonsubsidi seharga Rp35.000 hingga Rp45.000 per botol. Di sejumlah titik, Pertalite eceran dijual Rp20.000-Rp35.000 per liter, sementara Pertamax eceran mencapai Rp22.000 per liter.

Pengemudi ojek online menjadi korban langsung. Seorang pengemudi ojol di Manado mengaku pendapatannya anjlok karena waktu mencari penumpang tersita antrean sejak subuh. Sopir angkot pun mengeluhkan hal serupa.

Menanggapi situasi di Manado, Sales Branch Manager Pertamina wilayah SulutGo menyebut keterlambatan distribusi sebagai penyebab utama. Kapal pengangkut 3.000 kiloliter Pertalite telah tiba pada 13 Oktober, dengan tambahan 5.000 kiloliter dijadwalkan datang 16 Oktober 2026.

Respons Pertamina dan Penindakan

Pertamina Patra Niaga mengklaim terus mengoptimalkan distribusi BBM di Bali melalui penguatan armada mobil tangki, dukungan personel lintas daerah, operasional terminal 24 jam, serta optimalisasi pasokan kapal yang telah bersandar. Sejumlah SPBU di Bali juga diinstruksikan beroperasi nonstop 24 jam.

Di sisi penegakan hukum, Polda Bali menangkap tujuh pelaku dugaan penyelewengan BBM subsidi. Para pelaku diduga menjual Pertalite subsidi dengan harga selangit hingga Rp100.000 per botol di tengah kelangkaan.

Meski Pertamina dan Kementerian ESDM berulang kali menyatakan stok nasional aman dengan ketersediaan 16-21 hari, kondisi di lapangan menunjukkan persoalan distribusi belum sepenuhnya teratasi. Warga berharap antrean segera terurai dan harga kembali normal.