Trump Pertimbangkan Longgarkan Sanksi Shadow Fleet

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal yang disebut shadow fleet, yakni armada kapal yang pernah mengangkut minyak dan produk minyak dari negara-negara seperti Rusia, Iran, dan Venezuela. Tujuannya menekan tarif angkutan kapal tanker global yang mencapai rekor tertinggi, kata seorang pejabat AS pada Rabu (14/10/2026), seperti dilansir Reuters.

Pembahasan ini berlangsung hanya beberapa hari setelah Trump mencabut sementara sanksi atas bahan bakar diesel Rusia. Langkah itu menuai gelombang kritik dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, sejumlah negara Eropa, hingga sebagian senator Partai Republik di Senat AS yang menyebutnya sebagai hadiah bagi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk terus mendanai perangnya di Ukraina.

Hanya untuk Minyak Legal, Izin via Departemen Keuangan

Skema yang dibahas berpusat pada kemungkinan Amerika Serikat mengizinkan minyak legal mengalir melalui kapal-kapal yang sebelumnya disanksi. Artinya, kapal-kapal itu hanya boleh mengangkut minyak mentah atau produk minyak yang tidak disanksi Washington, bukan minyak Rusia dan Iran yang tetap dikenai sanksi. Tujuan utamanya adalah menambah pasokan minyak mentah dan produk olahan keluar dari kawasan Teluk.

Perusahaan yang ingin menggunakan kapal-kapal tersebut harus mengajukan permohonan ke Departemen Keuangan AS. Departemen Energi AS menegaskan setiap pelonggaran sanksi terhadap shadow fleet tidak akan membantu Rusia mengangkut minyak atau produk minyaknya. Menteri Energi AS Chris Wright menyampaikan gagasan tersebut dalam pesan video ke Kongres Perminyakan Dunia (World Petroleum Congress) di Riyadh pekan ini, menurut riset Energy Aspects, meski Reuters tidak memperoleh video atau transkrip lengkapnya.

Harga Minyak Langsung Turun

Pasar merespons cepat. Harga minyak mentah Brent turun 2,28 dolar AS atau 2,2 persen ke 103,78 dolar AS per barel, sementara WTI turun 1,34 dolar AS atau 1,4 persen ke 93,75 dolar AS per barel pada perdagangan Kamis pagi. Analis PVM Oil John Evans menilai langkah itu berpotensi menurunkan tarif angkutan dan memberi fleksibilitas lebih bagi pengiriman diesel.

Penurunan itu tertahan oleh ketegangan geopolitik: serangan proyektil menenggelamkan kapal di dekat Selat Hormuz, serangan drone dan rudal Houthi terhadap Arab Saudi, serta klaim Rusia atas serangan Ukraina ke dua kilangnya termasuk kilang Ryazan berkapasitas 400 ribu barel per hari.