DPR Desak Presiden Bergerak Cepat
Komisi IV DPR menyoroti kejadian maut di tengah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, termasuk gugurnya empat petugas dan pekerja saat memadamkan karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Anggota Komisi IV DPR Alex mendesak Presiden Prabowo Subianto segera melakukan penanganan. "Kami mendesak presiden, jangan tunggu korban terus berjatuhan. Kalau negara ini tak memiliki peralatan, tentu akan banyak bangsa yang bersedia turut membantu seperti yang dilakukan Jepang beberapa waktu lalu," kata Alex dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10/2026).
Alex menegaskan karhutla sudah tak lagi sekadar merusak kesehatan, tetapi telah merenggut nyawa dan memusnahkan tanaman serta satwa langka. Ia mempertanyakan sampai kapan kondisi ini dibiarkan berulang tanpa penanganan yang tuntas.

277 Ribu Kasus ISPA, 62.400 Balita
Dampak kesehatan karhutla tercatat sangat besar. Berdasarkan rekapitulasi Kementerian Kesehatan per 12 Oktober 2026, tercatat 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) kumulatif di 63 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi terdampak. Dari jumlah itu, sebanyak 62.400 kasus atau 22,5 persen dialami anak berusia 0 hingga 5 tahun.
Alex juga mencatat 324 orang mengalami luka berat dan 23 orang menderita luka ringan akibat karhutla, sebagian besar berasal dari Kalimantan Tengah. Kementerian Kesehatan menjelaskan asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun yang dapat memicu ISPA, iritasi mata dan kulit, serta memperburuk asma dan penyakit paru.
Sebagai respons, Kemenkes mengerahkan 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan disertai distribusi alat kesehatan, obat-obatan, dan perlengkapan perlindungan ke wilayah terdampak.
Citra Paru-paru Dunia dan 52 Perusahaan
Alex mengingatkan agar karhutla tidak mengubah citra Indonesia sebagai paru-paru dunia. Ia menyoroti munculnya meme mengenai kabut asap atau "jerebu" di Malaysia sebagai bukti dampak karhutla Indonesia turut dirasakan negara tetangga.
Untuk memperjelas penanganan, Alex menyarankan Presiden Prabowo membuka data perusahaan yang teridentifikasi memiliki keterkaitan dengan konsesi lahan dan titik panas penyebab karhutla. Ia menyebut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan Greenpeace Indonesia telah mengungkap adanya 52 perusahaan yang terafiliasi dengan modal asing dan dikaitkan dengan karhutla di Indonesia.
Berdasarkan catatan BMKG, karhutla sepanjang 2026 telah terjadi sejak Januari hingga Juni dengan luas lahan terbakar mencapai 107.465 hingga 202.004 hektare. Memasuki Juli 2026, titik api meluas ke Papua, Sumatera, dan Kalimantan, lalu memburuk tajam pada Agustus dengan ratusan ribu hektare terbakar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.










Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!