Sekolah Ditutup Lima Hari

Johor Bahru — Pemerintah Negara Bagian Johor, Malaysia, memutuskan menutup semua sekolah dan institusi pendidikan selama lima hari mulai Senin (19/10/2026). Kebijakan ini diambil menyusul kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang tak kunjung membaik dan terus menyelimuti wilayah negara bagian tersebut.

Keputusan itu diumumkan Pengerusi Jawatankuasa Pendidikan dan Penerangan Johor, Dr Muhammad Naqib Md Ghazali, setelah mesyuarat Jawatankuasa Penyelarasan Pengurusan Jerebu Johor pada tengah hari Sabtu (17/10/2026). Penutupan juga dilakukan atas titah Pemangku Sultan Johor, Tunku Mahkota Ismail, dengan pemerintah negeri mengutamakan keselamatan dan kesehatan rakyat.

"Laporan pemantauan menunjukkan bahwa pembacaan Indeks Pencemaran Udara (IPU) masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, tanpa perbaikan yang signifikan," ujar Muhammad Naqib. Ia menegaskan masa penutupan akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kualitas udara, prakiraan cuaca, dan penilaian kesehatan yang berjalan terus-menerus.

Kualitas Udara Tak Kunjung Membaik

Data Departemen Lingkungan Hidup Malaysia menunjukkan Pasir Gudang mencatat IPU 190 pada Minggu (18/10) pukul 08.00 waktu setempat — tertinggi di Malaysia dan masuk kategori tidak sehat (rentang 101–200). Delapan stasiun pemantauan di Johor mencatat kualitas udara tidak sehat, meliputi Larkin dan Kota Tinggi (181), Pengerang (178), Batu Pahat (169), Kluang (163), Tangkak (160), serta Segamat (157).

Dampak kesehatan ikut memburuk. Sepanjang Oktober 2026, tercatat 30.648 kasus asma dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di Johor — naik 20,7 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Otoritas kesehatan setempat mengingatkan masyarakat memakai pelindung pernapasan dan membatasi aktivitas luar ruangan, terutama bagi anak-anak dan kelompok berisiko.

PdPR Berjalan, Ini Penutupan Ketiga

Selama sekolah ditutup, sesi Pengajaran dan Pembelajaran di Rumah (PdPR) tetap diteruskan mengikuti Manual PdPR Versi 2.0 Kementerian Pendidikan Malaysia. Pengecualian terbatas hanya diberikan bagi siswa yang mengikuti ujian dan penilaian, dengan koordinasi Departemen Pendidikan Negeri Johor (JPNJ) dan prosedur kesehatan yang ketat — tanpa kegiatan tambahan.

Ini merupakan penutupan ketiga dalam sebulan. Johor sebelumnya menutup semua sekolah selama dua hari mulai 8 Oktober 2026, lalu memperpanjang penutupan selama lima hari pada 12–16 Oktober 2026. Asap yang menyelimuti Johor berasal dari karhutla di Sumatera dan Kalimantan, terutama lahan gambut yang mudah terbakar saat cuaca kering dan terbawa angin melintasi perbatasan.

Di tengah krisis ini, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengusulkan kerja sama tingkat ASEAN untuk memperkuat penanganan polusi lintas batas. Penutupan sekolah di Johor menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak berhenti di lokasi kebakaran — asap lintas batas turut mengganggu pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi negara tetangga.