Dewan FIFA Rapat di Zurich
FIFA menyatakan akan meninjau masa depan FIFA Peace Prize, penghargaan yang pertama kali diberikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump tahun lalu. Keputusan itu diambil usai rapat Dewan FIFA di Zurich, Swiss, pada Kamis (15/10/2026) yang berlangsung sekitar tiga setengah jam.
Presiden FIFA Gianni Infantino mengatakan masa depan penghargaan tersebut akan dikaji oleh Komite Tanggung Jawab Sosial Sepak Bola FIFA. Komite itu ditugaskan menganalisis, mengajukan proposal, dan keputusan final akan diambil pada rapat dewan berikutnya.
FIFA mengumumkan pembentukan penghargaan itu pada November 2025. Penghargaan tersebut diberikan setiap tahun kepada individu yang dinilai mengambil tindakan luar biasa demi perdamaian. Pada Desember 2025, Infantino menyerahkan penghargaan perdana itu kepada Trump dalam acara undian Piala Dunia di Washington DC.

Lahir Setelah Trump Gagal Raih Nobel
Pembentukan penghargaan itu terjadi beberapa pekan setelah Komite Nobel Norwegia tidak memilih Trump sebagai penerima Nobel Perdamaian pada Oktober 2025. Trump kala itu secara terbuka mengklaim dirinya layak menerima Nobel.
Langkah FIFA tersebut menuai kecaman luas. Sebuah kelompok hak asasi manusia internasional mengajukan pengaduan ke komite etik FIFA untuk menyelidiki Infantino atas dugaan pelanggaran netralitas politik. Federasi Sepak Bola Norwegia juga membawa persoalan itu ke komite etik FIFA, dan 50 anggota Parlemen Eropa menyerukan investigasi FIFA.
Sejumlah laporan menyebut Infantino tidak memberi tahu Dewan FIFA sebelum menciptakan penghargaan tersebut, sehingga banyak eksekutif senior terkejut. Kontroversi ini menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam rapat dewan di Zurich.
Infantino Minta Maaf, Kritik Eropa Belum Reda
Dalam rapat yang sama, Infantino menyampaikan permintaan maaf atas rencana penjualan 20 persen saham turnamen Piala Dunia senilai US$4,2 miliar melalui skema FIFA Forward Enterprise (FFE), yang diluncurkan dan cepat dibatalkan pada Juli 2026. Namun permintaan maaf itu dinilai belum cukup oleh sejumlah pemimpin sepak bola Eropa.
Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) Debbie Hewitt yang juga Wakil Presiden FIFA menyebut Infantino belum menjawab pertanyaan-pertanyaan tertulis soal rencana rahasia tersebut dan menilai ia tidak layak memimpin FIFA bila tak menjawabnya. UEFA disebut memimpin upaya mengganti Infantino sebelum atau pada pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan Maret mendatang, dengan batas waktu pencalonan penantang pada 18 November.
Infantino tidak menemui media usai rapat di markas FIFA tersebut. Meski mendapat dukungan dari sejumlah konfederasi, para pengkritiknya bertekad membuat posisinya semakin terisolasi dan membatasi kekuasaannya menjelang pemilihan.







Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!