IHSG Terbenam di Zona 5.800-an

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Indeks terkoreksi 79,24 poin atau 1,33 persen ke level 5.863,78. Sepanjang perdagangan, IHSG dibuka di level 5.917,13, sempat menyentuh titik terendah harian di 5.804,21, sebelum menutup hari dengan pemulihan terbatas.

Tekanan jual terlihat merata. Sebanyak 567 saham melemah, sementara hanya 108 saham menguat dan 120 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp13,52 triliun dengan volume 35,25 miliar saham. Seluruh 11 indeks sektoral ditutup di zona merah, dengan sektor barang konsumen non-primer (siklikal) turun paling dalam sebesar 3,20 persen, disusul sektor energi yang melemah 3,00 persen.

Dengan posisi penutupan ini, IHSG semakin menjauh dari level psikologis 6.000. Indeks sejatinya sudah meninggalkan level tersebut sejak awal pekan, tepatnya Senin (12/10/2026) saat ditutup di 5.936. Sempat ada upaya perlawanan pada Rabu (14/10/2026) ke level 5.943, namun perdagangan Kamis justru memperparah koreksi.

IHSG Anjlok 1,33% ke 5.863 Imbas Inflasi AS yang Panas
Ilustrasi: patung banteng di area Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Sumber: Vibiznews)

Inflasi AS Panas Jadi Biang Kerok

Koreksi tajam IHSG dipicu data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat indeks harga konsumen (CPI) September 2026 meningkat 3,7 persen secara tahunan (YoY) dari 3,4 persen pada Agustus 2026, melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan inflasi mencapai 3,6 persen. Inflasi inti tercatat 2,6 persen.

Angka tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan menaikkan suku bunga acuan sebelum akhir tahun. Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menjelaskan koreksi IHSG sejalan dengan pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia pasca-rilis data inflasi AS.

Ia memperkirakan sikap hawkish The Fed akan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang masih berada di atas 5 persen. Kondisi itu berpotensi meningkatkan arus modal asing keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Analis BRI Danareksa Sekuritas menambahkan penguatan dolar AS berpotensi menekan rupiah dan meningkatkan risiko arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang.

Sejalan dengan Kejatuhan Bursa Asia

Kejatuhan pasar saham domestik sejalan dengan tren pelemahan massal di bursa saham regional Asia. Indeks Kospi Korea Selatan menjadi yang paling hancur di Asia dengan ambles 7,57 persen, disusul Nikkei Jepang yang terperosok 4,90 persen. Shanghai Composite turun 1,98 persen dan Hang Seng melemah 1,47 persen.

Selain data inflasi AS, analis juga menyoroti eskalasi konflik geopolitik. Ancaman Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi dapat meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan volatilitas harga minyak dunia. Di sisi lain, data perdagangan China yang menguat lewat surplus dagang September sebesar US$133,53 miliar memang menopang permintaan komoditas Indonesia, kendati dampaknya terhadap IHSG tertahan oleh sentimen global yang negatif.

Secara teknikal, analis menilai pelemahan IHSG telah menembus area support dan mengonfirmasi tekanan lanjutan setelah indeks gagal bertahan di atas 6.000. Investor kini menanti rilis data ekonomi lanjutan serta arah kebijakan The Fed untuk menentukan langkah berikutnya di pasar modal domestik.