Lima Erupsi dalam Rentang 44 Menit

Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan pada Sabtu dini hari (17/10/2026). Lima kejadian erupsi tercatat dalam rentang 44 menit — masing-masing pada pukul 01.31, 01.35, 01.40, 01.47, dan 02.15 WIB. Berdasarkan laporan aktivitas gunung api, visual letusan tidak teramati secara kasat mata, namun aktivitasnya terekam jelas pada instrumen pemantauan kegempaan.

Erupsi terkuat secara instrumen terjadi pada pukul 01.47 WIB dengan amplitudo maksimum 55 milimeter selama 29 detik, disusul erupsi pukul 02.15 WIB beramplitudo 53 milimeter berdurasi 28 detik. Sementara erupsi pukul 01.40 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 40 milimeter dengan durasi 22 detik.

Abu Bergerak ke Barat hingga Banten dan Lampung

Analisis citra satelit Himawari-9 oleh BMKG Lampung mendeteksi sebaran abu vulkanik pada pukul 04.00 WIB. Material abu berada pada ketinggian sekitar 4.000 kaki atau setara 1,2 kilometer dan bergerak ke arah barat dari pusat gunung api yang berada di Selat Sunda.

"Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, sebaran abu vulkanik teridentifikasi ke arah barat, mencakup sebagian Selat Sunda bagian barat Pandeglang dan Selat Sunda bagian selatan Lampung," kata Adi Saputra, Forecaster On Duty BMKG Lampung, dikutip dari pemberitaan detikcom.

Pada pemantauan berikutnya pukul 07.00 WIB, citra satelit tidak lagi mendeteksi sebaran abu. Namun kondisi tersebut hanya menggambarkan hasil pengamatan pada waktu itu dan tidak memastikan bahwa seluruh material vulkanik telah mengendap. Masyarakat yang beraktivitas di perairan Selat Sunda diimbau memantau informasi resmi dari instansi berwenang.