Penggeledahan Senin Pagi

Agen federal Amerika Serikat menggeledah rumah anggota Kongres Ilhan Omar di Washington, DC, pada Senin pagi (12/10/2026). Dalam penggeledahan berdasarkan surat perintah pengadilan itu, petugas menyita ponsel, komputer pribadi, paspor, dan sejumlah buku catatan milik politikus Partai Demokrat dari Minnesota tersebut.

Omar dan suaminya, Tim Mynett, berada di rumah saat penggeledahan berlangsung. Departemen Kehakiman (DOJ) mengonfirmasi adanya penyelidikan kriminal yang sedang berjalan, dan menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), pemerintah kini menyusun kasus yang bisa berujung pada pencabutan kewarganegaraan (denaturalisasi) dan deportasi Omar.

FBI Geledah Rumah Ilhan Omar, AS Susun Kasus Deportasi
Ilhan Omar. (Foto ilustrasi) (Sumber: IBW21)

Dua Penyelidikan Paralel

Omar menjadi subjek dua penyelidikan federal yang berjalan paralel. Penyelidik di Minnesota menelusuri dugaan penipuan imigrasi, sementara Kantor Jaksa AS untuk DC yang dipimpin Jeanine Pirro menyelidiki laporan keuangan Omar dan suaminya.

Fokus utama adalah proses kewarganegaraan Omar. Ia mengklaim menjadi warga AS pada usia 17 tahun pada 2000 melalui naturalisasi ayahnya, Nur Omar Mohamed. Namun penyelidik menelusuri kemungkinan usia Omar sebenarnya sudah 19 tahun saat itu, yang berarti ia tak memenuhi syarat kewarganegaraan turunan. Belasan surat panggilan dewan juri (grand jury) dilaporkan telah dilayangkan, termasuk kepada anggota keluarga Omar.

WSJ melaporkan tuduhan serupa pernah ditelaah pada era pemerintahan Biden, tetapi tidak dilanjutkan karena bukti dianggap tidak cukup. Sejak Januari 2025, pemerintahan Trump mengajukan hampir 200 kasus denaturalisasi sipil, jumlah terbanyak dalam sejarah.

Bantahan Omar dan Hoaks Deportasi

Omar membantah seluruh tuduhan dan menuding pemerintahan Trump melakukan politisasi aparat penegak hukum terhadap lawan politiknya. Hingga kini belum ada dakwaan yang diajukan dan penyelidikan masih berjalan.

Di tengah ramainya pemberitaan, beredar pula klaim viral bahwa Omar telah dideportasi ke Somalia. Klaim itu dipastikan hoaks: tidak ada pernyataan resmi FBI maupun lembaga federal lain, dan narasi tersebut berasal dari akun parodi di X.

Omar, 44 tahun, adalah salah satu dari dua perempuan Muslim pertama yang terpilih ke Kongres AS pada 2018. Ia lahir di Mogadishu, Somalia, menghabiskan empat tahun di kamp pengungsi Dadaab, Kenya, sebelum keluarganya tiba di AS pada 1995 dan ia menjadi warga negara pada 2000.