Transaksi Rp26,1 Triliun Rampung 7 Oktober 2026

PT Jhonlin Baratama, perusahaan yang dikaitkan dengan pengusaha H. Andi Syamsudin Arsyad atau Haji Isam, resmi menyelesaikan pembelian 10,08 miliar saham PT Bayan Resources Tbk (IDX: BYAN). Usai transaksi itu, Jhonlin Baratama menguasai 30,25% saham emiten pertambangan batu bara tersebut.

Penyelesaian transaksi diungkap Bayan Resources dalam surat tanggapan kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 12 Oktober 2026. Surat yang ditandatangani Direktur Bayan Resources Jenny Quantero dan Alastair McLeod itu merupakan jawaban atas permintaan penjelasan bursa soal pengalihan saham BYAN kepada Jhonlin Baratama.

Transaksi bermula dari penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat (PJBS) antara Low Tuck Kwong dan Elaine Low sebagai penjual dengan PT Jhonlin Baratama sebagai pembeli. Dalam keterbukaan informasi 6 Oktober 2026, jumlah saham objek transaksi tercatat 10.084.088.370 saham, naik dari rencana awal 10.000.000.500 saham.

Haji Isam Caplok 30,25% Saham Bayan Resources Rp26,1 Triliun
Pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, pemilik Jhonlin Baratama. (Sumber: Olenka.id)

Beli Saham BYAN dengan Diskon 76,5% dari Harga Pasar

Berdasarkan laporan kepemilikan saham kedua pihak, harga transaksi tercatat Rp2.588 per saham. Dengan 10,084 miliar lembar saham yang dialihkan, nilai transaksi setara sekitar Rp26,10 triliun.

Angka itu berarti Haji Isam mendapatkan diskon sekitar 76,5% dari harga pasar. Sebagai pembanding, saham BYAN ditutup di level Rp11.300 pada akhir perdagangan Rabu (14/10/2026). Menariknya, Low Tuck Kwong justru memborong 500 ribu lembar saham BYAN di harga pasar Rp11.200 pada 13 Oktober 2026, senilai sekitar Rp5,6 miliar.

Di sisi lain, sebelum transfer saham di pasar negosiasi pada 7 Oktober, Low Tuck Kwong juga lebih dulu menjual 33,33 juta lembar saham di harga Rp11.025 pada 6 Oktober 2026, menurut catatan IDNFinancials.

Low Tuck Kwong Tetap Pengendali, Bisnis Tak Berubah

Meski kepemilikan Jhonlin Baratama mencapai 30,25%, manajemen Bayan Resources menegaskan transaksi tersebut tidak mengakibatkan perubahan pengendalian perusahaan. Low Tuck Kwong tetap tercatat sebagai pengendali meski hanya memegang 9,25% saham, didukung Elaine Low yang masih memiliki 21,95% saham BYAN.

Bayan juga menyatakan tidak menjadi pihak dalam transaksi jual beli saham tersebut, sehingga tidak dapat mengonfirmasi soal persyaratan transaksi, pertimbangan penentuan harga, dan substansi kesepakatan antara penjual dan pembeli.

Terkait kemungkinan sinergi antara Bayan Resources dan Jhonlin Baratama, perseroan menyatakan belum ada pembahasan di antara kedua pihak. Hingga surat tanggapan diterbitkan, tidak ada perubahan rencana belanja modal, investasi, ekspansi, maupun diversifikasi usaha.

OJK Pantau Isu Akuisisi BCA

Nama Haji Isam juga terseret rumor akuisisi Bank Central Asia (BCA) yang beredar di media sosial. BCA telah membantah kabar tersebut. EVP Corporate Communication BCA Hera F Haryn menegaskan informasi itu tidak benar, dan PT Dwimuria Investama Andalan tetap menjadi pemegang saham mayoritas BCA dengan 54,94%.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan memantau isu tersebut. OJK menegaskan stabilitas industri perbankan nasional tetap ditopang permodalan dan likuiditas yang memadai, serta setiap perubahan pengendalian bank akan dinilai berdasarkan kepatuhan regulasi, tata kelola, dan implikasinya terhadap stabilitas sistem keuangan.

Terpisah, emiten sawit grup Haji Isam, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), memastikan operasional dan produksinya tetap berjalan normal di tengah karhutla yang melanda Kalimantan. Seluruh hasil produksi PGUN dialokasikan untuk kebutuhan biodiesel (FAME) perusahaan afiliasinya, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR).