Rombongan Pejabat Tinggi Sambangi BEI
JAKARTA — Sejumlah pejabat tinggi negara mendatangi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat (16/10/2026) siang, di tengah kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memicu penghentian sementara perdagangan. Rombongan tiba sekitar pukul 13.00 WIB.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad hadir bersama Menteri Investasi yang juga CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Perkasa Roeslani, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, dan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria juga terlihat dalam rombongan tersebut, seperti dilaporkan MetroTV dan KompasTV.
Kunjungan para pejabat itu berlangsung ketika pasar saham domestik menghadapi tekanan jual masif usai pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia.
IHSG Anjlok Lebih dari 10%, Trading Halt Diberlakukan
Pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, IHSG langsung merosot 8,01% atau 469,86 poin ke level 5.393,92. Penurunan tajam itu membuat BEI memberlakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit, mulai pukul 08.58 hingga 09.28 WIB, sesuai Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas.
Setelah perdagangan dilanjutkan, tekanan jual justru meluas. Riset Mirae Asset Sekuritas dalam laporan Lunch Break mencatat IHSG menutup sesi pertama dengan anjlok 10,76% ke level 5.233. Portal viv.co.id melaporkan indeks bahkan sempat menyentuh 5.199,13 atau turun 11,2% — posisi terendah sejak 2020 — dengan 675 saham melemah dan hanya 18 saham yang menguat.
Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama: PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) merosot 14,9%, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turun 14,8%, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 14,0%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terkoreksi 12,3%, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 8,5%.
Pemicu: Ancaman Reklasifikasi MSCI
Sentimen negatif dipicu pengumuman MSCI yang membuka konsultasi kepada pelaku pasar untuk mengkaji ulang klasifikasi indeks Indonesia dari kategori Emerging Market (pasar negara berkembang) menjadi Standalone Market (pasar mandiri). MSCI akan menerima masukan hingga 30 April 2027 dan mengumumkan keputusannya sebelum 30 Juni 2027.
Dalam pernyataannya yang dikutip Reuters, MSCI menyoroti kekhawatiran terhadap fungsi pasar, transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan efektivitas penegakan aturan. Lembaga itu menilai klasifikasi Indonesia sebagai pasar berkembang tidak lagi tepat kecuali ditemukan bukti perbaikan material dalam tata kelola pasar.
Kekhawatiran investor asing tercermin dari arus dana keluar: investor asing mencatat penjualan bersih US$212,5 juta sepanjang Oktober, dan secara kumulatif US$4,87 miliar sejak awal 2026. Tekanan juga merambat ke nilai tukar rupiah yang diperdagangkan di Rp18.063 per dolar AS pada pagi hari, setelah sempat menyentuh di atas Rp18.100.
Dasco Minta BEI Berbenah, OJK Klaim Reformasi Berjalan
Usai kunjungan, Dasco menegaskan kedatangannya merupakan bagian dari fungsi pengawasan DPR terhadap pasar modal. Ia meminta BEI terus melakukan perbaikan sekaligus mengakomodasi masukan dari lembaga-lembaga internasional, termasuk MSCI.
“Kami mengawasi kejadian-kejadian yang selama ini ada di bursa dan dalam peristiwa-peristiwa yang kemudian kami memonitor,” ujar Dasco, seperti dilaporkan KompasTV. Ia menilai pengumuman MSCI muncul lebih awal dibandingkan proses tinjauan indeks yang sebelumnya diperkirakan berlangsung pada November 2026.
Sementara itu, Ketua OJK Friderica Widyasari menyatakan pihaknya sedang menjalankan reformasi pasar modal Indonesia. Mirae Asset mencatat tekanan bursa domestik bersifat spesifik: mayoritas bursa Asia justru menguat hari ini.










Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!