Tempoh 1x24 jam selepas OTT menjadi alasan utama
Suruhanjaya Pemberantasan Korupsi (KPK) menjelaskan alasan tidak mengheret lima suspek kes rasuah dana siap pakai (DSP) kebencanaan BNPB dengan pasal ancaman hukuman mati. Penjelasan disampaikan Plt Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein dalam sidang media di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumaat (16/10/2026).
"Untuk penerapan kenapa tidak Pasal 2, Pasal 3, ya, tentunya rekan-rekan tahu bahwa kegiatan penyelidikan tertutup, dan kemudian ada peristiwa tertangkap tangan, tentunya KPK hanya mempunyai waktu 1x24 jam untuk menentukan status prosesnya apakah naik ke tahap penyidikan," ujar Taufik. Menurut dia, ketentuan dalam KUHAP terbaru mengharuskan penyidik segera menetapkan tersangka ketika penyelidikan tertutup berujung pada penangkapan.
Pertimbangan kedua ialah kecukupan alat bukti yang ditemui penyidik. Selepas melalui ekspos, penyidik memutuskan mengenakan Pasal 12 huruf i Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi berkaitan konflik kepentingan, bukan Pasal 2 dan 3 yang membuka ruang hukuman mati. KPK menyoroti afiliasi sejumlah syarikat vendor dengan penyelenggara negara dan orang kepercayaan Kepala BNPB.

Lima Tersangka dan Dua Klaster Perkara
SPRM membahagikan kes kepada dua kluster. Yang disyaki: Gabriel Purwaka Sigit (Kasubdit Pengurusan Bantuan dan Kecemasan BNPB serta pegawai pembuat komitmen), Bima Setiawan (tenaga pakar serta adik Ketua BNPB Letjen TNI Suharyanto), Richard Erlangga (tenaga pakar Ketua BNPB), serta Gery Prasetiawan dan Syifa Nrika Ghifarian dari pihak swasta.
Taufik menambah, dakwaan konflik kepentingan itu berkaitan dengan beberapa aktiviti perolehan barangan dan perkhidmatan: "Kerana terdapat beberapa aktiviti perolehan barangan dan perkhidmatan yang kemudiannya turut diafiliasikan beberapa syarikat dengan pihak penyelenggara negara dan saudara atau masih mempunyai hubungan atau orang kepercayaan Ketua Badan BNPB." DSP sendiri merupakan dana yang pencairannya fleksibel, namun mesti mematuhi Peraturan BNPB Nomor Tahun 2020, antaranya penetapan status darurat bencana oleh ketua daerah atau presiden.
DPR Desak Hukuman Mati
Penjelasan KPK itu muncul di tengah desakan DPR. Anggota Komisi XIII DPR Rieke Diah Pitaloka mendesak KPK menerapkan hukuman mati berdasarkan Pasal 2 ayat (2) UU Nomor 31 Tahun 1999. Politisi PDI-P itu menilai penyelewengan dana kebencanaan memenuhi unsur "keadaan tertentu" karena merampas hak hidup masyarakat terdampak bencana.
Rieke turut meminta siasatan diperluas dengan Seksyen 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan Seksyen 20 UU Tipikor untuk menjejaki aktor intelektual serta korporasi vendor, menggandeng PPATK menelusuri aliran dana, dan mengaudit kelembagaan BNPB agar penanganan karhutla tidak lumpuh.
Pintu Pasal Hukuman Mati Belum Tertutup
Ketua KPK Setyo Budiyanto memberi isyarat pintu penerapan Pasal 2 dan 3 UU Tipikor belum tertutup. "Ini kan proses masih berjalan. Tidak menutup kemungkinan mungkin nanti ditemukan ada pengembangan atau mungkin ada informasi baru, atau keterlibatan pihak-pihak lain, tidak menutup kemungkinan Pasal itu (Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor) diterapkan," kata Setyo di sela acara Jelajah Media 2026 di Yogyakarta, Kamis (15/10/2026).
Preseden penggunaan hukuman mati dalam kes rasuah memang terhad: pada 2020, SPRM mendakwa bekas Menteri Sosial Juliari Batubara di bawah seksyen rasuah, bukan Seksyen 2(2). Kes ini bermula daripada OTT SPRM pada 13 Oktober 2026 yang menahan 14 orang, dengan dakwaan penyelewengan dana yang sepatutnya digunakan untuk menangani kebakaran hutan dan tanah di Kalimantan dan Papua, gempa bumi di NTT, serta banjir di Aceh dan Sumatera.






Belum ada komen. Jadilah yang pertama!