Siswa Boleh Nambah, Porsi Awal Tetap Ditakar
Badan Gizi Nasional (BGN) menguji coba sistem penyajian prasmanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam sistem ini, setiap siswa tetap mendapat porsi awal sesuai takaran gizi yang ditetapkan, namun siswa yang masih lapar boleh mengambil tambahan selama persediaan mencukupi.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan makanan dibawa hangat dari dapur langsung ke ruang kelas tanpa jeda, dengan suhu minimal 60 derajat Celsius. Setelah semua siswa kebagian porsi awal, barulah siswa yang masih membutuhkan boleh menambah. Aturannya tegas: kebebasan mengambil tambahan tidak boleh mengurangi hak siswa lain.
Anggarannya tidak berubah: tetap Rp15.000 per porsi dikalikan jumlah siswa. Menurut Sudaryono, yang selama ini menjadi perhatian justru limbah makanan — anak kelas 5 SD yang bertubuh kecil dan bertubuh besar selama ini mendapat porsi sama, padahal kebutuhannya berbeda. Lewat prasmanan, porsi bisa menyesuaikan kebutuhan masing-masing anak.

62 Dapur Ikut Piloting, Target 5.000 Dapur
BGN mencatat 62 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah Indonesia telah mengikuti piloting MBG prasmanan hingga 13 Oktober 2026. Uji coba berlangsung selama dua minggu sejak 5 Oktober 2026 dan menjangkau Merauke, Pulau Madura, berbagai wilayah di Jawa, Riau, Aceh, Palembang, hingga daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Jika pelaksanaannya tidak menghadapi kendala signifikan, BGN menargetkan 1.000 hingga 5.000 dapur dapat menerapkan metode prasmanan sampai akhir 2026. Sudaryono menegaskan penerapannya bertahap dan membutuhkan pelatihan: "Prasmanan ini bukan berarti bisa diterapkan begitu saja. Dapurnya harus dilatih, sekolahnya juga harus dilatih, dan kami harus memastikan semuanya siap. Setelah itu, baru bisa diterapkan secara bertahap dengan standar yang sama," ujarnya, Jumat (16/10/2026).
Jawab Masalah Makanan Basi dan Limbah
Sistem prasmanan dinilai menjawab masalah makanan basi. Sejumlah kasus keracunan MBG sebelumnya diduga bermula dari makanan yang basi akibat jeda distribusi yang terlalu lama antara selesai dimasak dan disantap siswa. Sistem prasmanan memangkas jeda itu sampai ke titik nol — makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, lebih segar, dan risiko kerusakannya menurun.
Contohnya terlihat di SDN Soprayan, Turi, Sleman, yang menjadi salah satu lokasi uji coba pada 5–16 Oktober 2026. Di sana siswa mengatur sendiri porsi nasi dan sayurnya, sehingga sisa makanan berkurang. Wakil Kepala Sekolah Murwoko menyebut cara ini membuat anak lebih bertanggung jawab atas makanannya sendiri. Siswa juga dilibatkan lewat jadwal piket untuk membantu melayani makanan secara bergantian.










Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!