BMKG: Aceh Siaga Hujan Lebat 18 Oktober 2026

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia pada Minggu, 18 Oktober 2026. Berdasarkan prakiraan yang diterbitkan pada Sabtu (17/10/2026), Provinsi Aceh ditetapkan berstatus siaga dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat.

Status waspada juga disematkan pada sembilan provinsi lain yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Riau, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Peringatan hari ini menyusul prakiraan BMKG pada Sabtu, 17 Oktober 2026, yang juga memuat hujan sedang hingga lebat di 12 wilayah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan, hingga Papua. Data BMKG menunjukkan hujan lebat hingga ekstrem sudah mengguyur beberapa daerah pada 13–15 Oktober 2026, dengan curah hujan harian mencapai 187 milimeter di Aceh, 95 milimeter di Sumatera Utara, 69 milimeter di Sumatera Barat, dan 63 milimeter di Papua Barat Daya.

9 Provinsi Waspada, Gelombang 4 Meter Intai Laut

BMKG juga memperingatkan gelombang laut setinggi 2,5 hingga 4 meter di Samudra Hindia bagian barat, dari Kepulauan Mentawai hingga Lampung. Potensi banjir pesisir atau rob diwaspadai di pesisir Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Maluku.

Sirkulasi siklonik terpantau di Samudra Hindia barat Aceh dan Laut China Selatan selatan Vietnam, memicu daerah konvergensi dan perlambatan kecepatan angin. BMKG turut memperingatkan potensi petir di Tanjung Pinang serta pertumbuhan awan cumulonimbus yang dapat membahayakan penerbangan di sejumlah jalur, antara lain Selat Malaka, Samudra Hindia barat Aceh, Laut Natuna Utara, serta perairan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Masyarakat diminta menyesuaikan aktivitas dan perjalanan dengan kondisi cuaca serta mengikuti informasi terbaru melalui kanal resmi BMKG. Meski 76 persen Zona Musim masih mengalami musim kemarau, dinamika atmosfer tetap memungkinkan hujan lebat secara lokal.

El Nino Kuat dan Musim Hujan yang Tertunda

BMKG menjelaskan fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat dan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) masih memengaruhi kondisi atmosfer Indonesia. Pada awal Oktober 2026, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 tercatat mencapai +3,33 derajat Celsius, sedangkan indeks ENSO tiga bulanan periode Agustus–September–Oktober mencapai +3,08 dan indeks IOD +0,703.

"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers pada 22 September 2026.

BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mundur dari rata-rata klimatologis di 529 Zona Musim, setara 61,08 persen wilayah Indonesia. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut 185 ZOM (24,66 persen wilayah) diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026, mencakup sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat bagian utara, dan Papua Selatan. Sementara 266 ZOM (17,31 persen wilayah) baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.