103 Siswa Diduga Keracunan Usai Santap MBG
CISARUA — Sebanyak 103 siswa SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, diduga keracunan usai menyantap paket Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (21/10/2026). Para siswa mengeluhkan mual, muntah, pusing, sakit perut, diare, hingga badan lemas tak lama setelah mengonsumsi paket MBG yang tiba di sekolah sekitar pukul 08.03 WIB.
Dari total 881 siswa penerima MBG di sekolah yang berlokasi di Desa Leuwimalang, Kecamatan Cisarua itu, gejala pertama dilaporkan muncul sekitar pukul 08.30 WIB. Jumlah siswa yang bergejala kemudian melonjak hingga mencapai 103 orang menjelang pukul 10.00 WIB.

Susu UHT Diduga Jadi Pemicu
Paket MBG yang disajikan hari itu terdiri atas nasi, telur goreng, wortel jagung, sayur, dan susu UHT. Dugaan sementara mengarah pada susu UHT sebagai pemicu keracunan. Kepala SPPG Bogor Cisarua Leuwimalang 01, Fima Aditya Nugraha, yang tiba di lokasi sekitar pukul 08.40 WIB, menemukan beberapa kemasan susu UHT yang dinilai rusak dan tidak layak konsumsi.
Penyebab pasti keracunan masih menunggu hasil uji laboratorium Dinas Kesehatan (Labkesda) Kabupaten Bogor. Sampel makanan telah diambil dan hasil pemeriksaan diperkirakan keluar minimal 3x24 jam.
Sebagian Besar Korban Sudah Pulang
Para siswa yang bergejala dievakuasi menggunakan ambulans ke Rumah Sakit Paru Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cibeureum, Cisarua. Sebagian besar korban sudah dipulangkan secara bertahap setelah mendapat penanganan sesuai gejala yang timbul, termasuk pemberian cairan bagi yang mengalami dehidrasi.
"Ditangani sesuai dengan gejala-gejala yang timbul. ... dari 103 itu hanya satu yang terindikasi rawat inap," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Fusia Meidiawaty.
Tim medis juga melakukan pemantauan lanjutan untuk memastikan tidak ada korban yang mengalami gejala susulan setelah kembali ke rumah.
Desakan Evaluasi Total Keamanan Pangan MBG
Kapolsek Cisarua, AKP Budi Suratman, membenarkan peristiwa dugaan keracunan tersebut. Sementara itu, Forum Alumni BEM (FABEM) Bogor Raya mendesak evaluasi total terhadap sistem keamanan pangan program MBG agar kejadian serupa tidak terulang.
"Jika benar ditemukan produk rusak dalam distribusi MBG, pertanyaannya adalah bagaimana sistem pengawasan keamanan pangan selama ini dijalankan," ujar Koordinator FABEM Bogor Raya, Yogi Ariananda. Ia juga meminta Dinas Kesehatan lebih proaktif melakukan langkah preventif.






Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!