Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memastikan pabrik ekosistem baterai kendaraan listrik di Karawang sudah rampung sepenuhnya dan siap diresmikan. "Sudah siap diresmikan. Kita tinggal menunggu waktu yang tepat dari Bapak Presiden. Pabriknya sudah jadi," ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Fasilitas tersebut dibangun lewat kemitraan CATL asal Tiongkok dengan BUMN Indonesia, dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) dilakukan Presiden Prabowo Subianto sekitar setahun sebelumnya. Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika memastikan pabrik sel baterai garapan PT CATIB itu telah beroperasi — tahap komisioning dan operasi bertahap berjalan sejak Agustus 2026.

Pabrik Baterai CATL Karawang Siap Diresmikan Prabowo
Ilustrasi kawasan industri smelter nikel di Morowali, Sulawesi Tengah.

Proyek Dragon US$6 Miliar

PT CATIB dibentuk sebagai perusahaan patungan antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) — konsorsium Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), Brunp, dan Lygend. Nilai investasi proyek yang dijuluki Proyek Dragon ini diperkirakan mencapai US$6 miliar atau sekitar Rp98,58 triliun.

Fasilitas produksi berdiri di kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Kabupaten Karawang, di atas lahan seluas 43 hektare, mencakup module & pack plant serta cell plant. "Kapasitas CATIB ini kan di fase pertama ini 6,9 GWh dan akan segera kita ekspansi ke minimal setidaknya 15 GWh," kata Aditya Farhan Arif, Direktur Utama IBC. Konversi 15 GWh setara baterai untuk kurang lebih 250 ribu kendaraan listrik.

Rangkaian produk mencakup sel baterai, modul, pack, hingga Battery Energy Storage System (BESS). Direktur Utama IBC itu juga memastikan pasar sudah siap menyerap: buyer sudah ada dan uji coba produksi (trial production) tengah berjalan di pabrik tersebut.

Puncak Hilirisasi Nikel

Peresmian pabrik Karawang akan menjadi pabrik ekosistem baterai kedua di Indonesia. Fasilitas pertama melibatkan LG, dibangun ketika Bahlil masih menjabat Menteri Investasi. Kehadiran CATIB menandai pergeseran bertahap rantai nilai nikel Indonesia: dari peleburan bijih serta produk antara seperti feronikel dan nickel matte, menuju perakitan sel baterai yang nilai tambahnya jauh lebih besar.

Momentum ini sejalan dengan proyeksi cerah perdagangan hilirisasi. Bloomberg Technoz (21/10/2026) melaporkan ekspor nikel dan komponen baterai litium Indonesia pada 2026 diproyeksikan menembus Rp899 triliun, sementara InvestorTrust (19/10/2026) mencatat permintaan nikel global diproyeksikan naik 21,39 persen.

Bagi pembaca internasional, pesannya jelas: Indonesia tidak lagi sekadar mengekspor bahan mentah. Dengan dua pabrik ekosistem baterai dan rantai pasok terintegrasi dari tambang hingga sel, Indonesia memposisikan diri sebagai salah satu pusat manufaktur baterai kendaraan listrik dunia.