Operator SPBU Menangis di Depan Gubernur Bali

Momen emosional mewarnai inspeksi Gubernur Bali Wayan Koster di SPBU 54.801.48 Jalan Diponegoro, Denpasar, pada Rabu (14/10/2026) malam. Seorang operator perempuan meluapkan kekecewaan hingga menangis ketika diminta memperpanjang operasional SPBU menjadi 24 jam demi mengurai antrean panjang kendaraan yang mengepung Pulau Dewata.

"Saya bukan robot, saya juga capek, Pak! Iya, saya pegawai, tapi saya punya hak juga!" ujar operator perempuan tersebut sembari ditenangkan rekan-rekannya di lokasi. Video curahan hati petugas yang kelelahan itu lantas viral di media sosial.

Dalam rekaman yang beredar, operator tersebut tampak menghampiri Koster dan menyampaikan keluhannya dengan suara lantang hingga menangis. Koster disebut tidak banyak berbicara saat menghadapi protes tersebut.

Viral! Operator SPBU Protes Koster: 'Saya Bukan Robot'
Ilustrasi: antrean BBM yang mengular di SPBU. (Sumber: airmailnew.com)

Krisis Antrean BBM Bali Jadi Latar

Insiden itu terjadi di tengah fenomena kelangkaan dan antrean panjang BBM jenis Pertalite yang melanda Bali sejak awal pekan. Kelangkaan dipicu oleh kendala cuaca buruk serta keterlambatan kapal pengangkut pasokan BBM untuk bersandar di fasilitas depo, yang kemudian memicu kepanikan warga hingga antrean mengular lebih dari satu kilometer di Denpasar, Badung, dan wilayah lainnya.

Di Kota Denpasar, antrean kendaraan roda dua terpantau mengular hingga empat kilometer, sementara roda empat mencapai sekitar tiga setengah kilometer. Kondisi ini telah memasuki hari kelima, dan sejumlah pengendara bahkan rela mengantre sejak malam hingga pagi demi mendapatkan bahan bakar. Di Sulawesi Utara, krisis serupa melanda Manado dengan antrean hingga satu kilometer dan harga BBM eceran yang melonjak hingga Rp45 ribu per botol.

Pencarian "harga bbm" melonjak lebih dari 600 persen di Google Trends Indonesia dalam satu jam terakhir, Jumat (16/10/2026) malam, menandakan krisis ini menjadi sorotan nasional.

Instruksi 24 Jam Bebani Operator

Guna mengurai kepadatan warga yang berburu bahan bakar, pemerintah daerah bersama Pertamina menginstruksikan SPBU tertentu untuk beroperasi penuh selama 24 jam. Kebijakan mendadak ini rupanya berdampak berat bagi para pekerja di garis depan.

Admin SPBU 54.801.48, Tria, menjelaskan para pekerja terkejut saat mendadak diminta bersiap buka 24 jam. Pasalnya, seluruh operator di SPBU tersebut adalah perempuan, bahkan salah seorang di antaranya masih dalam masa menyusui.

Tria menyebutkan operasional normal SPBU sejatinya hanya berlangsung dari pukul 06.00 hingga 23.00 WITA dengan skema dua shift yang diisi total 12 pekerja. Namun, lonjakan antrean BBM memaksa mereka bekerja lembur melebihi batas jam kerja hingga lewat tengah malam.

Pertamina Buka Suara, Minta Bantuan TNI

PT Pertamina Patra Niaga akhirnya buka suara menanggapi video viral tersebut. Area Manager Communication Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyatakan pihaknya memahami peningkatan beban kerja petugas SPBU seiring penguatan operasional dan perpanjangan jam layanan.

"Pertamina terus berkoordinasi dengan pengelola SPBU untuk memastikan pengaturan jam kerja, sistem shift, dan waktu istirahat sesuai ketentuan," ujar Ahad, Kamis (15/10/2026).

Tak hanya menata ulang jadwal giliran kerja, Pertamina juga menggandeng Kodam IX/Udayana guna meminta perbantuan personel TNI aktif sebagai operator SPBU tambahan. Keterlibatan prajurit TNI diharapkan memangkas kelelahan petugas sekaligus menjamin kelancaran pelayanan warga. Sementara itu, guna mencegah kekacauan, Polresta Denpasar telah menyiagakan sebanyak 588 personel untuk mengamankan puluhan SPBU serta mengatur arus lalu lintas di sekitarnya.