Dari 34,9 Persen ke 9,8 Persen dalam Setahun

Elektabilitas Presiden Prabowo Subianto merosot tajam dalam setahun terakhir. Survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan pada 1-10 Oktober 2026 menunjukkan dukungan terhadap Prabowo dalam simulasi semi terbuka 24 nama calon presiden tinggal 9,8 persen, jauh turun dari 34,9 persen pada November 2025.

Hasil survei disampaikan Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani melalui kanal YouTube SMRC TV pada Sabtu (17/10/2026). Survei melibatkan 1.213 responden dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, menggunakan kombinasi wawancara telepon dan tatap muka.

Penurunan terjadi secara bertahap. Pada Februari-Maret 2026 elektabilitas Prabowo masih di 33,3 persen, lalu anjlok ke 14,5 persen pada Juli 2026, dan kini 9,8 persen pada Oktober 2026.

Dedi Mulyadi Melesat ke Puncak

Posisi teratas kini ditempati Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan 35,5 persen dukungan, naik dari 19,7 persen pada November 2025. Anies Baswedan menyusul di posisi kedua dengan 10,3 persen, sementara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meraih 8,4 persen.

Dalam simulasi head-to-head yang hanya mempertemukan dua nama, Dedi Mulyadi unggul telak dengan 69,3 persen berbanding 18,8 persen untuk Prabowo. Sebanyak 12 persen responden belum menentukan pilihan.

Pendiri SMRC Saiful Mujani menegaskan tren penurunan elektabilitas Prabowo berlangsung konsisten dalam setahun terakhir, sementara elektabilitas Dedi Mulyadi justru menanjak pada periode yang sama.

SMRC Kaitkan dengan Evaluasi Kinerja

SMRC mengaitkan anjloknya elektabilitas dengan evaluasi publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo di tahun kedua. Aspek yang disorot meliputi kepuasan atas kinerja presiden, kondisi ekonomi dan politik, penanganan masalah mendesak, serta pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Survei ini digelar untuk mengukur dampak penurunan kepuasan publik terhadap kepemimpinan Prabowo sebagai petahana, khususnya dalam konteks spekulasi pencalonan kembali pada pemilihan presiden mendatang.