Protes Terbesar dalam Satu Dekade
Gelombang protes yang dipimpin aktivis generasi Z (Gen Z) mengguncang jalanan India dan disebut sebagai krisis terburuk bagi Perdana Menteri Narendra Modi sejak ia berkuasa pada 2014. Proyek data independen Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) menyebut protes jalanan di India tahun ini kemungkinan menjadi yang tertinggi dalam satu dekade.
Meski puluhan ribu personel keamanan dikerahkan untuk menghentikan mereka, para demonstran muda memanjat barikade pekan lalu, meneriakkan yel-yel anti-pemerintah, dan bentrok dengan polisi yang berusaha menyeret mereka. "Long live the revolution" (panjang umur revolusi), teriak seorang pemuda sebelum polisi menggiringnya ke dalam bus.
Analis menilai protes pemuda dan meningkatnya dukungan terhadap oposisi membentuk krisis terburuk bagi Modi dalam 12 tahun kekuasaannya. Penduduk berusia di bawah 30 tahun mencakup hampir seperempat dari 1 miliar pemilih India, menjadikan suara anak muda kekuatan politik yang menentukan.

Pemicu: Revisi Daftar Pemilih
Protes yang terjadi di ibu kota New Delhi dan sejumlah kota lain berfokus pada tuntutan agar Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) India, Gyanesh Kumar, mundur. Para aktivis dan partai oposisi menuduh revisi daftar pemilih yang dilakukannya menguntungkan Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Modi dan telah membantu BJP memenangkan beberapa pemilu negara bagian terakhir.
BJP, pemerintah, dan Komisi Pemilihan Umum membantah tuduhan tersebut. BJP menyebut kemenangan-kemenangannya berasal dari popularitas Modi dan pertumbuhan ekonomi yang kuat. Pemerintah dan BJP juga menolak memberikan komentar untuk laporan Reuters mengenai gelombang protes ini.
Amarah Pengangguran Pemuda
Di balik isu daftar pemilih, demonstrasi ini juga mencerminkan kemarahan yang lebih besar: kegagalan Modi menyediakan lapangan kerja bagi jutaan pemuda selama 12 tahun berkuasa, meski pertumbuhan ekonomi secara umum melonjak tinggi.
"Saya tidak akan mengatakan ini adalah awal dari berakhirnya rezim Modi, tapi ini jelas adalah awal dari kemundurannya," kata Yogendra Yadav, aktivis anti-pemerintah yang menjadi salah satu tokoh demonstrasi, kepada Reuters.
Meski tekanan meningkat, pemerintahan Modi dinilai masih stabil dan pemilu umum berikutnya baru akan digelar pada 2029. Namun para analis menilai suara generasi muda yang turun ke jalan menandai babak baru perlawanan politik di negara demokrasi terbesar di dunia itu.










Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!